Di Balik Penjualan 32 Bitcoin Strategy: Imbal Hasil 11,5% Membebani Akumulasi Kripto

EinsNews, JAKARTA — Perusahaan teknologi yang juga dikenal sebagai pemegang korporasi Bitcoin terbesar di dunia, Strategy (MSTR), mengonfirmasi telah melepas 32 Bitcoin (BTC) untuk mendanai pembayaran dividen saham preferen STRC. Langkah ini dilakukan di tengah upaya perusahaan menjaga keseimbangan antara kepemilikan aset kripto raksasa dan kewajiban likuiditas kepada pemegang saham.

Dalam pengajuan dokumen kepada regulator, perusahaan yang dipimpin Michael Saylor itu mengungkapkan bahwa penjualan Bitcoin—yang nilainya relatif kecil dibandingkan total cadangan—digunakan untuk mendukung dividen bulanan bagi investor saham preferen STRC. Selain itu, Strategy juga berhasil mengumpulkan sekitar USD 128,3 juta melalui penjualan 801.994 lembar saham biasa. Hingga 31 Mei 2026, Strategy masih menguasai 843.706 BTC, menjadikannya salah satu pemegang korporasi Bitcoin terbesar secara global.

Saham preferen STRC merupakan instrumen yang dirancang memberikan dividen variabel setiap bulan dengan target imbal hasil tahunan 11,5%. Mekanisme dividen ini menyesuaikan dengan harga pasar: jika saham diperdagangkan di atas nilai nominal USD 100, tingkat dividen menurun; sebaliknya, jika di bawah USD 100, dividen meningkat. Saat harga STRC berada di bawah USD 100 seperti pekan lalu, perusahaan harus mengandalkan cadangan kas—termasuk hasil penjualan Bitcoin—untuk memenuhi kewajiban, alih-alih menggunakan dana hasil penerbitan saham untuk membeli lebih banyak Bitcoin.

Struktur ini menciptakan hubungan langsung antara kinerja pasar saham STRC dengan strategi akumulasi Bitcoin Strategy. Kemampuan perusahaan membeli Bitcoin tambahan sangat bergantung pada performa saham preferen tersebut. Bagi investor, transaksi terbaru ini mengungkapkan bagaimana perusahaan mengombinasikan kepemilikan Bitcoin dalam jumlah besar dengan kewajiban dividen yang sensitif terhadap pasar. Jika harga STRC terus tertekan, Strategy mungkin harus lebih sering menjual Bitcoin atau mencari sumber likuiditas lain, yang berpotensi memperlambat laju akumulasi aset kripto mereka dan menimbulkan tekanan pada harga saham MSTR.