Bursa saham Eropa berhasil mencatatkan penguatan pada perdagangan Selasa (3/6/2026), ditopang oleh harapan baru meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak mentah dunia turun setelah muncul sinyal positif bahwa Amerika Serikat dan Iran masih memiliki peluang untuk mencapai kesepakatan damai yang berkelanjutan. Sentimen juga diperkuat oleh pengumuman penghentian sementara permusuhan antara Israel dan Hizbullah di Lebanon, yang memicu aksi beli di berbagai sektor. Indeks pan-Eropa Stoxx 600 ditutup naik 0,7%, memulihkan posisinya dari level terendah dalam sepekan yang sempat tertekan oleh memudarnya harapan penyelesaian konflik Iran.
Mayoritas bursa utama Eropa, termasuk London, Paris, Frankfurt, dan Milan, mengakhiri sesi di zona hijau. Namun, di tengah optimisme pasar, saham perusahaan bioteknologi asal Prancis, Abivax, justru ambruk hingga 43,6% setelah mengungkapkan temuan kasus kanker pada sejumlah pasien dalam uji klinis pengobatan kolitis ulseratif. Para analis menilai temuan ini berpotensi menjadi hambatan serius bagi prospek perusahaan, karena kekhawatiran investor akan terus membayangi meskipun belum terbukti ada kaitan langsung dengan terapi yang diuji. Ketidakadaan katalis positif lain dalam waktu dekat membuat sentimen terhadap sektor bioteknologi semakin rapuh.
Dari sisi fundamental, data inflasi tahunan zona euro untuk bulan Mei mencatat kenaikan menjadi 3,2%, sesuai dengan ekspektasi pasar. Lonjakan harga energi sebesar 10,9% secara tahunan menjadi pendorong utama, sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 10,8%. Data ini menguatkan ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) akan kembali menaikkan suku bunga dalam pertemuan pekan depan untuk menekan tekanan harga. Pasar pun mulai memperhitungkan risiko pengetatan moneter lebih lanjut di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi.
Meskipun perkembangan di Lebanon memberikan angin segar, masa depan negosiasi damai AS-Iran masih belum jelas. Presiden Donald Trump dalam pernyataannya pekan lalu menegaskan tidak terlalu peduli jika perundingan gagal, sementara Selat Hormuz—jalur vital pengiriman minyak dunia—belum sepenuhnya pulih dari gangguan. Para analis memperingatkan bahwa Iran justru diuntungkan oleh situasi yang ambigu ini, yang dapat memperpanjang volatilitas harga energi dan menekan prospek pemulihan ekonomi Eropa. Kombinasi antara risiko geopolitik yang belum mereda dan tekanan inflasi membuat investor tetap waspada dalam menempatkan modalnya di pasar saham Eropa.

