BEI Masukkan Mahkota Group ke Daftar Emiten Kepemilikan Saham Terkonsentrasi Tinggi

Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi memasukkan PT Mahkota Group Tbk (MGRO) ke dalam daftar emiten dengan kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) per 26 Mei 2026. Keputusan ini diumumkan menyusul pemantauan rutin terhadap struktur kepemilikan saham perseroan. Berdasarkan data BEI, sebanyak 93,76% total saham MGRO, baik dalam bentuk warkat maupun tanpa warkat, dikuasai oleh sejumlah kecil pemegang saham.

Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Kristian Manullang, menegaskan bahwa status HSC ini tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku di pasar modal. Pengumuman ini merupakan bagian dari transparansi informasi kepada publik dan investor, terutama untuk memberikan gambaran mengenai risiko konsentrasi kepemilikan pada emiten tersebut.

Sepanjang Januari hingga awal Juni 2026, BEI telah mengidentifikasi sejumlah emiten yang masuk dalam kategori HSC. Pada 2 April 2026, tercatat sembilan emiten berstatus HSC. Selanjutnya, pada 8 Mei 2026, saham PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) ditambahkan dengan persentase kepemilikan terkonsentrasi mencapai 95,82%. Pada 30 Mei 2026, PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) menyusul dengan persentase 94,10%. Dengan masuknya MGRO, total emiten berstatus HSC saat ini mencapai 12 perusahaan.

Dari sisi pergerakan saham, harga MGRO tercatat menguat 2,38% ke level Rp645 pada sesi perdagangan pagi, dan sempat menyentuh Rp650. Volume transaksi mencapai 3,29 juta saham dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp2,22 triliun. Data dari platform analitik menunjukkan sentimen positif sementara pasca-pengumuman, meskipun risiko likuiditas akibat kepemilikan terkonsentrasi tetap menjadi perhatian investor.

Mahkota Group saat ini tercatat di papan pengembangan BEI dan bergerak di sektor barang konsumen primer, dengan fokus utama pada industri perkebunan sawit dan tanaman pangan. Masuknya MGRO ke daftar HSC menambah daftar emiten yang perlu dicermati investor terkait potensi volatilitas harga dan keterbatasan likuiditas saham di pasar sekunder.