Banyak Investor Saham Masih Andalkan Insting, Ini Risikonya

KOMPAS.com – Jumlah investor ritel di pasar saham Indonesia terus bertambah. Namun, tren ini tidak selalu diimbangi dengan kesiapan strategi yang memadai.

Mayoritas investor ritel memulai investasi saham dengan pendekatan serupa, yakni membeli saham perusahaan yang dikenal, menyimpannya dalam jangka panjang, lalu menunggu dividen mengalir.

Dalam praktiknya, pasar sering kali berjalan berbeda. Tidak semua perusahaan di bursa membagikan dividen, tidak semua perusahaan favorit menghasilkan imbal hasil yang diharapkan, dan tidak setiap penurunan harga otomatis menjadi peluang beli.

Kondisi ini kerap mendorong investor ritel mengambil keputusan yang lebih didorong emosi daripada analisis. Tanpa pemahaman yang cukup soal pergerakan pasar, strategi awal tersebut justru rentan menghasilkan kerugian tidak terduga.

Pengalaman itu pernah dialami nasabah BNI Sekuritas, Alfian Limardi. Ia mulai berinvestasi saham sejak 2016 dengan pendekatan jangka panjang.

“Saya dulu lebih ke investor jangka panjang. Beli saham, simpan, dan berharap dividen,” tuturnya dikutip dari siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (26/5/2026).

Titik balik datang saat Alfian mengikuti program pendidikan di luar negeri. Ia berinteraksi dengan rekan yang aktif di pasar saham dan menyadari bahwa aktivitas trading bisa dilakukan kapan saja dan dari mana saja melalui aplikasi.

“Jual beli saham itu bisa dilakukan di mana saja selama ada internet,” ujarnya.

Wawasan Alfian pun kian terbuka. Ia menyadari bahwa berinvestasi saham tidak harus terbatas pada satu pendekatan. Selain investasi jangka panjang, ada pilihan lain, seperti trading yang memerlukan strategi dan disiplin tersendiri. Namun, ia juga menyadari, dengan memilih pendekatan baru, berarti ia harus kembali belajar dari awal.

Live trading sebagai ruang belajar strategi

Kembali aktif di pasar saham, Alfian mulai mengikuti sesi live trading yang diselenggarakan BNI Sekuritas, baik secara daring maupun luring. Baginya, sesi tersebut bukan sekadar forum diskusi, melainkan ruang belajar yang membantu memperjelas pengambilan keputusan investasi secara langsung dan real-time.

Melalui live trading, Alfian mendapatkan panduan yang lebih terstruktur. Ia mulai memahami peran penting menentukan batas-batas yang jelas sebelum masuk ke sebuah posisi, baik batas keuntungan maupun batas kerugian yang siap ditanggung.

“Sebagai trader, kami diajarkan untuk menentukan batas atas atau resistance dan batas bawah atau support. Juga rekomendasi profit… [content truncated]