TAPG Bagikan Dividen Jumbo Rp3,57 Triliun, Yield Menarik di Tengah Tekanan Kinerja

PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) akan mendistribusikan dividen tunai untuk tahun buku 2025 senilai total Rp3,57 triliun, atau setara Rp180 per saham. Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 22 Mei 2026, menegaskan komitmen emiten perkebunan kelapa sawit tersebut untuk memberikan imbal hasil kompetitif kepada investor di tengah perlambatan kinerja operasional.

Dividen tersebut terdiri dari dividen interim Rp89 per saham (Rp1,77 triliun) yang telah dibagikan sebelumnya, dan dividen final Rp91 per saham (Rp1,81 triliun) yang akan dibayarkan kepada pemegang saham yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada 8 Juni 2026. Jadwal cum dividen di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 4 Juni 2026, dengan ex dividen pada 5 Juni 2026, sementara di pasar tunai cum dividen pada 8 Juni 2026 dan ex dividen pada 9 Juni 2026. Pembayaran dividen final dijadwalkan pada 19 Juni 2026.

Kinerja fundamental TAPG pada 2025 menunjukkan soliditas laba bersih mencapai Rp3,70 triliun, hampir setara dengan total dividen yang dibagikan. Saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya tercatat Rp5,98 triliun, dengan total ekuitas Rp11,69 triliun per akhir Desember 2025. Namun, laporan keuangan kuartal I 2026 mengindikasikan perlambatan: pendapatan turun 4,88% secara tahunan menjadi Rp2,49 triliun, dan laba bersih terkoreksi 8,13% menjadi Rp739,76 miliar, dengan margin laba bersih di level 29,68%.

Respons pasar terhadap pengumuman dividen ini cukup positif. Hingga akhir perdagangan 29 Mei 2026, saham TAPG ditutup menguat 1,67% ke Rp1.520 per saham. Dengan dividen tahun buku 2025 sebesar Rp180 per saham, TAPG menawarkan dividend yield around 11,84%—sangat menarik bagi investor yang mencari pendapatan pasif. Meski demikian, perlambatan pendapatan awal tahun menjadi sinyal yang perlu dicermati mengingat harga komoditas sawit yang fluktuatif dan tekanan margin.

Ke depannya, investor akan memantau apakah TAPG mampu mempertahankan kebijakan dividen jumbo di tengah siklus bisnis yang melemah. Keputusan manajemen untuk tetap membagikan hampir seluruh laba bersih sebagai dividen menunjukkan prioritas pada imbal balik pemegang saham jangka pendek, namun dapat membatasi ruang investasi untuk ekspansi di masa mendatang. Dengan yield yang tinggi dan valuasi yang relatif terjangkau, saham TAPG masih menjadi salah satu pilihan menarik di sektor perkebunan.