Emiten Tambang (DOID) Raih Pendapatan Rp 5,68 T pada Kuartal I 2026

Emiten jasa pertambangan, PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID), membukukan pendapatan sebesar USD 318 juta atau sekitar Rp 5,68 triliun pada kuartal I 2026 (kurs Rp 17.881 per dolar AS). Meski turun 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, perseroan berhasil mencatat perbaikan profitabilitas seiring pemulihan kinerja operasional dan penguatan disiplin biaya.

Dalam laporan keuangan, Minggu (31/5), DOID mencatat laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar USD 28 juta, melonjak 98 persen dibandingkan USD 14 juta pada kuartal I 2025. Margin EBITDA juga meningkat menjadi 11 persen, dari sebelumnya 5 persen.

Manajemen menyebut kinerja tersebut diraih di tengah kuartal yang secara musiman menjadi periode paling menantang akibat tingginya curah hujan. Namun, perseroan mampu menjaga produktivitas melalui perbaikan struktural pada operasional, efisiensi biaya, serta pembentukan tim ahli terpusat untuk mendukung peningkatan kinerja di seluruh lini operasi.

Dari sisi operasional, jam non-produktif di Indonesia turun 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produktivitas alat ukur bank cubic meter (BCM) per jam meningkat 1 persen, sementara biaya unit per BCM turun 1 persen. Efisiensi juga tercermin dari biaya tenaga kerja per BCM yang turun 4 persen, didukung optimalisasi penempatan operator dan disiplin kerja.

Sementara itu, volume pengupasan lapisan tanah penutup (overburden removal) tercatat 89 juta BCM atau turun 12 persen secara tahunan. Produksi batu bara juga turun 20 persen menjadi 15 juta ton. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi berakhirnya sejumlah kontrak tambang di Indonesia dan Australia serta proses ramp-down pada beberapa lokasi operasi selama 2025.

Meski demikian, harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) bisnis kontraktor pertambangan meningkat 3 persen dibandingkan tahun lalu. Kenaikan ini didorong oleh porsi kontrak rise-and-fall yang lebih tinggi serta penyesuaian tarif yang mengikuti pergerakan harga batu bara.

DOID juga berhasil memangkas rugi bersih menjadi USD 24 juta pada kuartal I 2026, jauh membaik dibandingkan rugi bersih USD 70 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perbaikan tersebut didukung oleh kenaikan EBITDA, keuntungan USD 12 juta dari penjualan aset lahan dalam rangka optimalisasi portofolio ACG, penurunan kerugian investasi di 29Metals sebesar USD 12 juta, serta tidak adanya pencadangan piutang di Australia yang sebelumnya membebani kinerja pada kuartal I 2025.

… [content truncated]