Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat, menembus level psikologis baru di kisaran Rp 17.839 per dolar AS. Pelemahan ini berlangsung berkelanjutan, mencerminkan tekanan eksternal yang masih kuat terhadap mata uang Garuda. Namun, di tengah sentimen negatif tersebut, sektor industri kertas justru berpotensi menikmati dampak positif, khususnya bagi emiten yang berorientasi ekspor.
Dua emiten kertas dan bubur kertas milik Grup Sinar Mas, yakni PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), dipandang sebagai pihak yang diuntungkan oleh depresiasi rupiah. Melemahnya nilai tukar domestik meningkatkan daya saing produk mereka di pasar global, karena pendapatan ekspor yang diterima dalam dolar AS menjadi lebih tinggi jika dikonversi ke rupiah.
Dari sisi fundamental, margin keuntungan kedua emiten berpotensi melebar seiring biaya produksi yang sebagian besar masih dalam rupiah, sementara pendapatan ekspor menguat. Analis memperkirakan efek ini akan mulai terlihat pada laporan keuangan kuartal berikutnya, meskipun risiko inflasi impor bahan baku tetap perlu diwaspadai. Secara keseluruhan, pelemahan rupiah saat ini menjadi katalis positif bagi kinerja operasional dan valuasi saham INKP dan TKIM dalam jangka pendek hingga menengah.

