EinsNews, JAKARTA – Meskipun momentum Hari Raya Iduladha identik dengan lonjakan konsumsi protein hewani, analis industri menilai prospek sektor perunggasan nasional tetap positif dan diperkirakan masih memiliki ruang pertumbuhan hingga paruh kedua 2026. Faktor fundamental seperti pemulihan daya beli masyarakat, perbaikan keseimbangan pasokan, dan berbagai momentum konsumsi musiman dinilai akan terus menopang kinerja emiten unggas, termasuk JPFA dan CPIN.
Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji, menyatakan bahwa konsumsi protein hewani masyarakat yang terus meningkat menjadi pendorong utama permintaan daging ayam. Harga yang lebih terjangkau dibandingkan sumber protein lain membuat ayam tetap menjadi pilihan utama. Di sisi pasokan, kebijakan pengendalian populasi dan penyesuaian kuota impor grand parent stock (GPS) serta parent stock (PS) berhasil menjaga keseimbangan pasokan day old chick (DOC) dan live bird, sehingga harga jual di tingkat peternak cenderung stabil dan memberikan ruang perbaikan margin bagi pelaku usaha terintegrasi.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah diperkirakan akan mendorong permintaan produk unggas dalam jangka menengah, mengingat daging ayam menjadi komoditas yang paling diuntungkan dengan harga relatif ekonomis. Selain itu, momentum musiman seperti libur sekolah, Natal, dan Tahun Baru secara historis mampu meningkatkan konsumsi makanan dan minuman, termasuk produk berbasis ayam, sehingga memperkuat prospek pertumbuhan sektor ini.
Namun, sejumlah tantangan tetap perlu dicermati, terutama pelemahan nilai tukar rupiah yang berpotensi meningkatkan biaya produksi akibat ketergantungan pada komponen impor untuk bahan baku pakan ternak. Harga jagung domestik yang fluktuatif juga menjadi faktor risiko yang dapat mempengaruhi margin. Meski demikian, dengan fundamental yang solid dan dukungan kebijakan, industri perunggasan diprediksi tetap menjadi salah satu sektor yang menarik bagi investor hingga akhir 2026.