EinsNews, JAKARTA – PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mengumumkan pembagian dividen tunai sebesar Rp 936,26 miliar atau Rp 20 per saham untuk laba bersih tahun buku 2025. Angka ini menjadi yang terendah dalam lima tahun terakhir, meskipun laba bersih perseroan naik 13,09% menjadi Rp 3,66 triliun secara tahunan. Payout ratio dividen tercatat hanya sekitar 26%, jauh di bawah panduan sebelumnya yang berkisar 50%–60%.
Analis BRI Danareksa Sekuritas menilai langkah konservatif ini tidak mencerminkan penurunan kualitas bisnis, melainkan upaya manajemen untuk menjaga fleksibilitas keuangan di tengah tekanan eksternal seperti pelemahan rupiah dan kenaikan biaya bahan baku impor. Pertumbuhan laba yang solid dipadukan dengan payout ratio yang lebih rendah menunjukkan prioritas perusahaan pada penguatan kas guna mendukung kebutuhan ekspansi ke depan.
Kebijakan ini berpotensi mengurangi daya tarik dividen jangka pendek bagi sebagian investor, namun strategi menahan laba dinilai memiliki dasar kuat. Laba ditahan memberikan ruang bagi investasi kapasitas produksi, pengembangan produk margin tinggi, dan perluasan distribusi tanpa ketergantungan pada pendanaan eksternal. Efektivitasnya tetap tergantung pada eksekusi dan kontribusinya terhadap pertumbuhan laba.
Untuk menjaga profitabilitas, Kalbe Farma dinilai perlu fokus pada optimalisasi bauran produk ke segmen margin lebih tinggi seperti nutrisi dan consumer health. Langkah ini krusial untuk meredam tekanan biaya bahan baku impor akibat pelemahan rupiah. Pada kuartal I-2026, beban pokok penjualan naik 15,5%, lebih tinggi dari pertumbuhan penjualan 10,1%, sehingga margin kotor tergerus ke 38,3%. Efisiensi rantai pasok dan penguatan penggunaan bahan baku lokal juga menjadi kunci menjaga margin di tengah daya beli yang melemah.