Saham Oracle tercatat ambles lebih dari 4% pada perdagangan premarket, menghentikan laju kenaikan hampir 10% yang terjadi pada sesi sebelumnya. Penurunan ini tidak dipicu oleh melemahnya fundamental perusahaan, melainkan oleh kekhawatiran investor terhadap beban biaya ekspansi infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang kian membengkak. Alphabet juga ikut tertekan dengan penurunan hampir 3% setelah mengumumkan rencana penghimpunan dana sekitar USD 80 miliar melalui penawaran saham untuk membiayai investasi pada teknologi generasi berikutnya.
Pemicu utama pelemahan Oracle adalah langkah Alphabet yang akan menjual saham guna menggalang dana puluhan miliar dolar. Berkshire Hathaway diperkirakan akan berpartisipasi dalam transaksi tersebut dengan investasi sekitar USD 10 miliar. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memperluas kapasitas pusat data dan infrastruktur komputasi yang sangat dibutuhkan untuk memenuhi lonjakan permintaan layanan AI.
Langkah ini menegaskan betapa mahalnya persaingan menjadi pemimpin di industri AI. Sebelumnya, pada April lalu, Alphabet telah meningkatkan proyeksi belanja modal tahunannya hingga mencapai USD 190 miliar. Bagi investor, fenomena ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan dalam AI tidak semata-mata bergantung pada teknologi dan permintaan pelanggan, tetapi juga pada akses terhadap modal dalam jumlah yang sangat besar.
Bagi Oracle, ledakan pertumbuhan AI menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, perusahaan diuntungkan oleh meningkatnya permintaan terhadap infrastruktur cloud dan solusi perangkat lunak korporat. Namun di sisi lain, investor mulai mempertanyakan berapa lama raksasa teknologi mampu terus membiayai investasi AI tanpa menekan margin keuntungan atau neraca keuangan mereka. Perhatian pasar kini tidak hanya tertuju pada perusahaan mana yang akan memperoleh manfaat terbesar dari AI, tetapi juga pada perusahaan mana yang pada akhirnya harus menanggung biaya terbesar dalam membangun infrastruktur penopang revolusi AI tersebut.