Dividen Merck Tembus Rp123 Miliar, Jadwal Pencairan Tertuang Juni 2026

PT Merck Tbk (MERK) mengumumkan pembagian dividen tunai senilai Rp123,2 miliar atau setara Rp275 per lembar saham, sebagai realisasi hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 25 Mei lalu. Keputusan ini menegaskan komitmen perseroan dalam memberikan imbal hasil kepada pemegang saham di tengah kinerja keuangan yang solid. Total dividen tersebut akan dialokasikan kepada 448 juta saham beredar, dengan rasio pembayaran mencapai 50,5 persen dari laba bersih 2025 yang tercatat sebesar Rp243,89 miliar.

Sisa laba bersih akan ditahan guna memperkuat posisi keuangan dan mendukung ekspansi bisnis ke depan. Hingga akhir Desember 2025, saldo laba ditahan MERK tercatat mencapai Rp931,27 miliar, sementara total ekuitas perseroan mencapai Rp975,71 miliar. Kondisi ini mencerminkan fundamental yang kokoh, sehingga keputusan dividen tidak mengganggu likuiditas operasional maupun rencana pengembangan jangka panjang.

Investor yang berhak menerima dividen adalah mereka yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada 9 Juni 2026 pukul 16.00 WIB. Adapun jadwal cum dividen di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 5 Juni 2026, sementara ex dividen berlangsung pada 8 Juni 2026. Untuk pasar tunai, cum dividen jatuh pada 9 Juni dan ex dividen pada 10 Juni 2026. Pembayaran dividen dijadwalkan pada 24 Juni 2026, memberikan kepastian bagi investor yang ingin mengoptimalkan portofolio.

Di luar dividen, RUPST juga menyetujui perubahan susunan Dewan Komisaris dan penyesuaian kegiatan usaha sesuai KBLI 2025. Koji Okamoto resmi menjabat sebagai Presiden Komisaris, sementara Doktor Insinyur Agus Prabowo ditunjuk sebagai Komisaris Independen, keduanya akan bertugas hingga penutupan RUPS 2029. Langkah ini dinilai strategis untuk memperkuat tata kelola perusahaan di tengah persaingan industri farmasi yang ketat.

Kinerja keuangan MERK sepanjang 2025 menunjukkan tren positif, dengan pendapatan tumbuh 16 persen menjadi Rp1,2 triliun dibandingkan tahun sebelumnya. Laba usaha melesat 66 persen menjadi Rp193 miliar, didorong oleh efisiensi operasional dan permintaan produk yang kuat. Pembagian dividen ini pun menjadi sinyal optimisme bagi pasar, meski sebagian investor mungkin mencermati potensi volatilitas jangka pendek menjelang ex dividen.