Bursa Efek Identifikasi 12 Emiten dengan Konsentrasi Kepemilikan Tinggi, Saham MGRO Terbaru Masuk Daftar

Sebanyak 12 emiten tercatat telah menyandang status High Shareholding Concentration (HSC) atau konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi di segelintir pihak berdasarkan pengumuman Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang tahun 2026. Dari jumlah tersebut, tiga emiten terbaru ditetapkan pada periode Mei hingga awal Juni, sementara sembilan lainnya telah diumumkan sejak awal tahun. Status ini menandakan bahwa sebagian besar saham perusahaan dikuasai oleh pemegang saham tertentu, yang berpotensi memengaruhi likuiditas dan volatilitas perdagangan.

Emiten terbaru yang menerima status HSC adalah PT Makhota Group Tbk (MGRO) dengan kepemilikan saham mencapai 93,76 persen berdasarkan struktur kepemilikan per 26 Mei 2026. Dalam keterbukaan informasi pada Selasa (2/6/2026), BEI menegaskan bahwa penetapan ini tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran peraturan. Sebelum MGRO, deretan emiten lain yang telah masuk daftar HSC meliputi PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) dengan 99,85 persen, PT Ifishdeco Tbk (IFSH) 99,77 persen, PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) 98,35 persen, PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) 97,75 persen, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) 97,31 persen, PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) 95,94 persen, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) 95,76 persen, PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) 95,47 persen, PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) 95,35 persen, PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) 95,82 persen, serta PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) 94,10 persen.

Fenomena konsentrasi kepemilikan tinggi ini mencerminkan struktur modal yang kurang terdiversifikasi, sehingga risiko pasar menjadi lebih terpusat pada segelintir pemegang saham. Dari perspektif investor, emiten dengan status HSC cenderung memiliki volume perdagangan yang rendah, yang dapat menyebabkan pergerakan harga yang ekstrem saat terjadi transaksi besar. Meskipun demikian, BEI menyatakan bahwa status ini tidak berarti pelanggaran aturan, melainkan sebagai peringatan bagi pelaku pasar untuk lebih waspada terhadap potensi manipulasi dan likuiditas tipis.

Pada perdagangan intraday Selasa (2/6/2026), saham-saham yang masuk daftar HSC mencatatkan pergerakan variatif. Saham BREN memimpin penguatan dengan lonjakan 22,73 persen ke level Rp4.050, diikuti DSSA yang melesat 25 persen ke Rp615, dan LUCY naik 9,80 persen ke Rp1.129. Sementara itu, saham IFSH melemah 1,72 persen menjadi Rp1.425, RLCO turun 3,90 persen ke Rp2.710, dan MGLV terkoreksi 0,74 persen ke Rp6.675. Pergerakan ini menunjukkan bahwa status HSC tidak langsung berdampak negatif pada harga, namun tetap perlu dicermati mengingat potensi gap harga yang lebar dan risiko gagal serah efek.