Jangan IPO-kan Pelindo

Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.

Isi berita asli:
Diskusi mengenai masa depan Pelindo akan lebih bermanfaat jika kita melihat ekonomi dari masing-masing pelabuhan dan terminal.

tirto.id – Danantara merencanakan initial public offering (IPO) atas perusahaan pelabuhan Pelindo dalam kurun lima tahun ke depan. Selain korporasi ini, sovereign wealth fund tersebut juga memasukkan BUMN lain seperti Pegadaian, Pupuk Indonesia, Angkasa Pura dan sebagainya. Bagi Pelindo, dua cucunya sudah terlebih dahulu melantai di bursa, masing-masing Jasa Armada Indonesia dan Indonesia Kendaraan Terminal. Jika kelak Pelindo betul-betul IPO, berarti “kakek-nenek” bareng cucu di pasar modal. Sebuah kombinasi unik.

Beberapa waktu lalu dalam sebuah media ibu kota, saya menulis seputar rencana IPO Pelindo ini dengan titik tekan bahwa sebaiknya saham yang dilepas oleh pemerintah selaku pemegang saham utama dan satu-satunya dialokasikan untuk Pemda DKI. Hal ini karena pelabuhan adalah aset yang sangat berharga dan karenanya hampir tidak ada negara, bila tidak hendak disebut tidak ada sama sekali, yang menyerahkan pelabuhannya kepada investor, apalagi asing. PSA (Singapura) saja bukanlah perusahaan terbuka.

Sebetulnya ada hal yang lebih mendasar daripada sekadar apakah Pelindo bisa di-IPO-kan. Yakni: apa sebenarnya tujuan dan manfaat ekonomi menjadikan Pelindo sebagai perusahaan terbuka secara keseluruhan?

Pertanyaan ini layak diajukan karena Pelindo sesungguhnya bukanlah satu aset komersial yang homogen. Pelindo merupakan konsolidasi dari berbagai jenis bisnis dan fungsi kepelabuhanan yang sangat berbeda. Ada terminal yang berorientasi internasional dan berpotensi sangat menarik bagi investor; ada pula terminal yang melayani perekonomian domestik dengan pertimbangan komersial yang berbeda.

Selain itu, terdapat pelabuhan dan fasilitas yang nilai ekonominya bagi Indonesia mungkin jauh lebih besar daripada tingkat pengembalian finansialnya secara langsung. Bila dicermati lebih saksama, pelabuhan-pelabuhan utama Indonesia semakin memiliki fungsi ekonomi yang berbeda-beda. Empat pelabuhan yang secara resmi dikategorikan sebagai main port (Jakarta, Belawan, Surabaya dan Makassar) semakin terspesialisasi, bukan lagi sekadar empat gerbang nasional yang dapat dianggap sama.

Konsekuensinya, muncul perubahan penting dalam struktur ekonomi maritim Indonesia: aktivitas pelayaran domestik telah menjadi jauh lebih dominan, sementara sistem penerimaan negara dari jasa kepelabuhanan masih sangat bergantung pada kegiatan yang terkait dengan pelaya… [content truncated]

*Tanggal Source Berita: Kamis, 27 Agustus 2026 07:32:00 WIB*