Pada perdagangan Senin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sekitar 0,37% ke level 6.501,67. Meski demikian, beberapa saham tetap berkinerja baik di tengah pelemahan pasar.
Dari bursa Indonesia, sejumlah saham dengan kapitalisasi besar seperti BYAN, BBRI, dan BBCA mengalami tekanan harga. Tidak hanya itu, pada penutupan perdagangan Selasa (28/7), IHSG turun 0,89% ke posisi 6.130 dari level awal perdagangan.
Investor asing sangat aktif melakukan jual bersih (net sell) mencapai Rp1 triliun di pasar reguler dan net sell Rp350,71 miliar secara keseluruhan pasar. Namun, beberapa saham mengungkit indeks, termasuk EMAS yang melemah sebesar 10,44%, BRMS dengan peningkatan sebesar 5,04% dan MORA naik sebanyak 1,90%.
Di sisi lain, emiten seperti PGEO menambah kapasitas pembangkit panas bumi melalui proyek-proyek bottoming unit. Perseroan juga memperoleh mandat eksplorasi panas bumi di wilayah Cubadak Panti, Sumatra Barat.
Selain itu, PT Pani Industri Nusantara (PIN) melalui EMAS menyiapkan dana Rp2,45 triliun hingga Rp2,70 triliun untuk pembangunan fasilitas pengolahan emas Carbon-in-Leach (CIL). Dengan potensi awal sekitar 77 MWe, proses ini akan berpotensi memenuhi kebutuhan listrik sekitar 40.000 rumah tangga.
Di sisi pasar ekuiti dunia, indeks di AS mencatatkan peningkatan positif dengan Dow Jones naik 0,30% ke level 53.577, S&P 500 bertambah 0,32% ke 7.677 dan Nasdaq menguat 0,66% ke 26.151.
Selain itu, rencana perubahan komposisi indeks FTSE pada September mendatang juga menjadi isu yang mendorong aksi jual dari passive funds terhadap saham Indonesia yang keluar dari indeks tersebut. ETF EIDO sebagai indikator eksposur saham Indonesia di pasar AS masih naik 1,11%.
**Sentimen Saham:**
* **Sentimen Positif:** EMAS, PGEO
* **Sentimen Negatif:** BYAN, BBRI
*Tanggal Source Berita: Rabu, 26 Agustus 2026 09:19:37 WIB*