EinsNews, JAKARTA – Indeks VN-Index menorehkan lonjakan signifikan sejak awal tahun, menembus level 1.860 poin dengan kenaikan lebih dari 450 poin hanya dalam dua bulan. Namun, kinerja gemilang indeks ini tidak serta-merta dirasakan seluruh investor. Fenomena divergensi pasar kembali mencuat—saham-saham berkapitalisasi besar mendominasi kenaikan, sementara sebagian besar emiten lain justru stagnan atau terkoreksi. Pola ini menciptakan celah lebar antara indeks dan portofolio investor ritel.
Menurut analis pasar, situasi ini mencerminkan model pertumbuhan berbentuk ‘K’ yang lazim di pasar global. Di Vietnam, saham-saham unggulan dengan daya saing tinggi dan dukungan kebijakan menjadi motor utama indeks. Tanpa kontribusi emiten-emiten besar tersebut, posisi VN-Index diperkirakan hanya sekitar 1.400 poin. Sektor perbankan, yang selama ini menjadi pilar kapitalisasi, dinilai akan kembali menjadi katalis kenaikan di paruh kedua 2026.
Namun, ada tekanan fundamental yang membayangi. Dari sisi permintaan, ruang pelonggaran moneter semakin terbatas akibat risiko inflasi global yang dipicu ketegangan geopolitik dan fluktuasi harga komoditas. Sementara itu, kebutuhan pembiayaan untuk investasi publik dan ekspansi bisnis domestik meningkat. Saluran pendanaan alternatif seperti obligasi korporasi dan obligasi pemerintah belum berfungsi optimal, sehingga beban tetap tertumpu pada perbankan. Hal ini menghambat penurunan suku bunga yang berarti, yang berimbas pada likuiditas pasar saham.
Di sisi penawaran, gelombang IPO besar-besaran diperkirakan terjadi pada 2025–2028 dengan nilai mencapai 40–50 miliar dolar AS. Masuknya saham-saham baru ini berpotensi menekan likuiditas dan mengalihkan minat investor dari saham yang sudah tercatat. Meski demikian, saham perbankan dinilai memiliki ketahanan lebih baik karena fundamental yang solid, didukung pertumbuhan kredit dan margin bunga bersih yang stabil.
Ke depan, prospek saham perbankan Vietnam di semester kedua 2026 akan sangat bergantung pada kebijakan moneter, kecepatan realisasi investasi publik, serta kemampuan mengelola arus IPO tanpa mengganggu stabilitas pasar. Para analis optimistis bahwa sektor ini masih memiliki ruang untuk outperformance, khususnya jika regulator mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan pengendalian inflasi.