PT Ekadharma International Tbk (EKAD), perusahaan produsen lumpur, mencatatkan laba jumbo sepanjang semester I-2026 mencapai Rp683 miliar. Angka ini signifikan naik dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mengalami kerugian sebesar Rp24,96 miliar. Laba tersebut berasal dari selisih alias diskon akuisisi atas PT Youyi Group (YG), sebuah perusahaan asal China, yang diperoleh EKAD pada awal Agustus 2026. Transaksi ini mencapai nilai sebesar Rp1,73 triliun.
Dengan demikian, terdapat selisih laba dari akuisisi (gain from bargain purchase) senilai Rp662,72 miliar yang dicatatkan oleh EKAD. Angka tersebut merupakan hasil dari penurunan nilai aset wajar YG berdasarkan perhitungan KJPP Kusnanto dan Rekan sebesar Rp2,39 triliun.
Laba kotor yang tersisa setelah akuisisi mencapai Rp73,57 miliar. Meski begitu, laba kotor EKAD tetap tumbuh 120 persen dibandingkan dengan semester I-2025 yang sebesar Rp38,9 miliar. Dengan adanya goodwill negatif dari akuisisi, laba sebelum pajak mencapai Rp631,4 miliar.
Kenaikan pendapatan EKAD melonjak lebih dari 100 persen menjadi Rp389,23 miliar. Penasaran dengan faktor peningkatan ini? Sebagian besar dipicu oleh penjualan batu bara sebesar Rp219,2 miliar yang tak ada pada periode sebelumnya. Pelanggan batu bara terbesar perusahaan adalah PT Rizqita Sukses Abadi (Rp67,97 miliar) dan Xiamen Xiangyu Commodities Pte Ltd (Rp44,5 miliar).
Peningkatan pendapatan tersebut juga berdampak pada peningkatan beban pokok pendapatan. Meski demikian, laba sebelum pajak mencapai Rp631,4 miliar, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp632,57 miliar.
Namun, arus kas akibat peningkatan pendapatan juga berpengaruh signifikan pada EKAD. Dalam hal ini, penerimaan dari pelanggan meningkat tajam sebesar 114 persen menjadi Rp427,39 miliar. Meski demikian, arus kas bersih dari operasi mencapai Rp7,88 miliar dan naik dua kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yaitu minus Rp56,9 miliar.
Posisi aset EKAD juga mengalami peningkatan signifikan. Sementara nilai aset wajar meningkat menjadi Rp2,81 triliun dari Rp2,39 triliun sebelumnya, total aset mencapai Rp5,4 triliun. Hal yang sama berlaku untuk liabilitas, yang naik tajam menjadi Rp5,48 triliun setelah lonjakan utang kepada pihak berelasi sebesar Rp1… [content truncated]
**Sentimen Saham:**
* **Sentimen Positif:** EKAD
* **Sentimen Negatif:** –
*Tanggal Source Berita: Kamis, 20 Agustus 2026 19:34:05 WIB*