Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
Untuk Masuk dan Daftar akan kami arahkan ke laman Subscribe Investor Daily
JAKARTA, investor.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) menguat sebesar 47,9 poin (0,75%) ke level 6.449,8 pada penutupan perdagangan, Selasa (18/8/2026).
Sejumlah saham yang masuk ke dalam indeks LQ45 terpantau menguat, salah satu di antaranya adalah saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) sebesar 9,5% dan PT Indika Energy Tbk (INDY) sebesar 5,08%.
Selain itu, terdapat tujuh saham yang mentok Auto Rejection Atas (ARA) di antaranya, saham KIJA, JARR, INET, ASLI, TEBE, BYAN dan PGUN.
Saham-saham lainnya juga melonjak dan masuk top gainers, yakni saham KIJA hingga ASLI dengan lonjakan harga 24% sampai 34%.
Sebanyak 419 saham terpantau naik, 248 saham turun, dan 296 saham stagnan. Total nilai transaksi di bursa mencapai Rp 14,7 triliun.
Mayoritas sektor saham menguat pada penutupan pasar hari ini, dengan penguatan paling tinggi pada sektor energi sebesar 2,24%.
Selanjutnya, penguatan juga melanda sektor infrastruktur 1,65%, sektor transportasi 1,42%, sektor properti 1,21%, sektor barang konsumen primer 1,03%, sektor barang baku 0,81%, sektor teknologi 0,4%, sektor perindustrian 0,25%, sektor barang konsumen non-primer 0,24%, dan sektor kesehatan 0,13%. Sedangkan, sektor keuangan melemah 0,29%.
Pilarmas Investindo Sekuritas menilai, sentimen domestik menjadi salah satu penopang utama penguatan IHSG. Pasar merespons RAPBN 2027 yang dinilai mencerminkan optimisme pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi di tengah ketidakpastian global.
Pilarmas menyebutkan, penguatan IHSG hari ini berlangsung ketika mayoritas bursa regional Asia bergerak melemah. Sentimen eksternal masih dibayangi memudarnya harapan perdamaian di Timur Tengah dan perlambatan ekonomi China.
Sementara itu, Pilarmas menambahkan, kesepakatan gencatan senjata 60 hari antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berakhir tanpa perpanjangan. Presiden AS Donald Trump juga menyatakan tidak tertarik memperpanjang kesepakatan tersebut.
Pilarmas mengatakan, sentimen negatif lainnya datang dari China. Data terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi mulai kehilangan momentum. Pertumbuhan penjualan ritel secara tahunan turun menjadi 0,6% dari sebelumnya 1%. Secara kumulatif Januari-Juli, pertumbuhannya juga turun menjadi 1,2% dari 1,3%.
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
*Tanggal Source Berita: Selasa, 18 Agustus 2026 16:26:37 WIB*