Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
Kabar terbaru muncul setelah Haji Isam dan Low Tuck Kwong bertemu. Tiba-tiba muncul rumor Haji Isam mau akuisisi BYAN. Lalu, bagaimana fakta sebenarnya?
Mikirduit – Saham BYAN dirumorkan bakal diakuisisi oleh Haji Isam. Kabar tersebut muncul setelah Haji Isam diketahui sedang melakukan peninjauan lokasi bersama Low Tuck Kwong sebagai pemegang saham pengendali BYAN bersama Norman Joesoef pemilik Republik Korpora Indonesia. Lalu, mau dibawa kemana harga saham BYAN selanjutnya?
Kami akan menjelaskan posisi fakta terakhir dari rumor ini. Intinya, rumor ini baru sampai tahap adanya pertemuan antara Haji Isam, Low Tuck Kwong dan Norman Joesoef untuk peninjauan lokasi di Kutai Kertanegara Kalimantan Timur. Dalam pertemuan tiga entitas itu juga dihadiri oleh direksi masing-masing perusahaan (Grup Jhonlin, Republik Korpora Indonesia, dan BYAN).
Kabar ini muncul dari postingan Instagram @hrptaufik pada 15 Agustus 2026 pukul 12 siang. Postingan itu juga dikolaborasikan dengan akun @koalisi.indonesia.maju yang menyebutkan pemilik akun adalah Adnin Saleh. Jika dirunut, beberapa postingan Adnin Saleh di Facebook sering dikolaborasikan dengan Fraksi Partai Gerindra.
Adapun, belum ada keterbukaan informasi apapun terkait rencana Haji Isam mengakuisisi BYAN di keterbukaan IDX. Sehingga akurasi rumor-nya masih sangat rendah.
Kami menilai ada beberapa kemungkinan dalam pertemuan antara Haji Isam dengan Low Tuck Kwong ini:
Pertama, memang benar ada negosiasi untuk akuisisi 62 persen saham BYAN oleh Haji Isam. Tapi, sifatnya baru ngobrol-ngobrol tahap awal. Jika dihitung, dengan rata-rata produksi (sayangnya, kami tidak menemukan detail data cadangan BYAN), serta potensi free cash flow dari produksi tersebut. Kami menilai harga Rp3.000 – Rp4.000 per saham sudah cukup wajar untuk akuisisi saham BYAN.
Dengan asumsi harga itu, Haji Isam harus mengeluarkan kocek senilai Rp61 triliun – Rp82 triliun untuk 62 persen saham BYAN.
Namun, peluang Low Tuck Kwong menjual BYAN juga cukup besar mengingat pihaknya ada kerja sama dengan perusahaan pembangkit listrik Korea Selatan. Lalu, ada risiko kerja sama terganggu jika DSI melakukan kebijakan ekspor satu pintu secara penuh. (Namun, ini baru asumsi dari kami)
Kedua, pembahasannya bukan untuk akuisisi, tapi untuk kolaborasi bisnis salah satunya dengan TEBE milik Haji Isam. Apalagi, di perdagangan 14 Agustus 2026, TEBE mencatatkan auto rejection atas 25 persen.
TEBE memiliki aset hauling dan pelabuhan di Kalimantan Selatan. BYAN jug… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Sabtu, 15 Agustus 2026 21:08:27 WIB*