Menakar Prospek Saham Konglomerat Usai Rilis Kinerja Semester I-2026

Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.

Isi berita asli:
Reporter: Yuliana Hema | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja emiten para emiten konglomerat terpantau beragam sepanjang semester I-2026. Pertumbuhan pendapatan yang dicetak sejumlah emiten tak selalu berujung pada kenaikan laba bersih.

Misalnya, di Grup Salim, kinerja PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) membukukan pendapatan sebesar Rp 65,53 triliun atau tumbuh 9% secara tahunan atau Year on Year (YoY). Namun laba bersih INDF turun 19% secara tahunan jadi Rp 4,72 triliun.

Namun kinerja emiten perkebunan kelapa sawit dari Grup Salim kompak mencetak pertumbuhan pendapatan dan laba bersih. Seperti, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) yang penjualan naik 16% YoY dan laba bersihnya meningkat 25% YoY.

Baca Juga: Cermati Rekomendasi Teknikal BUMI, PWON, PGAS untuk Perdagangan Kamis (6/8)

Nasih serupa juga dialami oleh emiten milik taipan Prajogo Pangestu. Di mana, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mampu mencetak kenaikan pendapatan YoY 71,6% menjadi US$ 5,69 miliar, tetapi laba bersih malah turun 64,8% YoY menjadi US$ 190.

Bergeser ke perusahaan Grup Emtek, yakni PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) yang pendapatannya naik 22,7% YoY menjadi Rp 10,81 triliun, tetapi EMTK harus menelan kerugian sebesar Rp 4,23 triliun yang berbalik dari laba bersih.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata bilang kinerja emiten konglomerat pada semester I-2026 sangat beragam. Tekanan margin, biaya pendanaan, hingga faktor  non-operasional turut memengaruhi kemampuan emiten mencetak laba.

“Banyak emiten mencatat pertumbuhan pendapatan, tetapi tidak seluruhnya mampu mengonversinya menjadi laba karena tekanan margin, biaya pendanaan, dan faktor non-operasional,” katanya kepada Kontan, Rabu (5/8).

Dari sisi kualitas kinerja, Liza menilai DCII, TOWR, BREN, AALI, dan SCMA menjadi sejumlah emiten yang cukup menonjol sepanjang enam bulan pertama 2026.

Sementara itu, lonjakan laba CUAN, DMAS, SUPA, dan BUMI masih perlu dicermati lebih lanjut. Sebab, pertumbuhan tinggi tersebut sebagian berasal dari basis pembanding yang rendah alias low base.

Kondisi berbeda terlihat pada INDF, ICBP, ROTI, IMAS, ASII, UNTR, dan BSDE yang kinerjanya dinilai relatif tertinggal. Adapun EMTK dan BUKA berbalik mencatatkan kerugian meski pendapatannya masih bertumbuh.

Memasuki semester II-2026, Liza melihat peluang pertumbuhan paling kuat berada pada emiten yang bergerak di sektor pusat data dan infrastruktur digital, energi terbarukan, serta perkebuna… [content truncated]

*Tanggal Source Berita: Rabu, 05 Agustus 2026 19:43:41 WIB*