Kinerja Emiten Konglomerat Toto Sugiri DCII Moncer pada Semester I 2026

Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.

Isi berita asli:
Menurut laporan keuangan PT DCI Indonesia Tbk (DCII), pendapat perseroan selama semester I 2026 mencapai Rp1,78 triliun.

Anda mengakses konten Single Data
Premium.

Untuk meneruskan, silakan berlangganan, atau beli secara satuan.

Nikmati akses premium dengan harga yang lebih terjangkau.

Rp300.000

150.000/bulan

Akses lebih banyak konten premium dan fitur eksklusif khusus pelanggan.

Langsung baca artikel “Kinerja Emiten Konglomerat Toto Sugiri DCII Moncer pada Semester I 2026”.

Silakan beli artikel ini atau berlangganan untuk mengakses fitur sumber.

Hubungi KIC untuk permintaan data, riset, dan analisis. Hubungi sekarang »

Menurut laporan keuangan PT DCI Indonesia Tbk (DCII), perseroan meraih pendapatan Rp1,78 triliun selama semester I 2026.

Nilainya melesat 33,23% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibanding semester I 2025 yang mencapai Rp1,33 triliun.

Secara periodik per semester I 2023-2026, pendapatan emiten konglomerat Otto Toto Sugiri ini konsisten mengalami pertumbuhan.

Adapun pada semester I 2026, DCII membukukan beban pokok pendapatan Rp813,72 miliar. Dengan demikian, perusahaan mencatatkan laba bruto Rp963,70 miliar, tumbuh 21,25% (yoy).

Sementara, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk DCII per 30 Juni 2026 mencapai Rp732,53 miliar, melonjak 18,74% (yoy).

Sejalan dengan pendapatan, laba DCII juga konsisten tumbuh selama periode semester I 2023-2026.

Per 30 Juni 2026, DCII membukukan total aset Rp8,02 triliun, tumbuh 20,58% dibanding posisi akhir 2025. Asetnya berupa liabilitas Rp3,28 triliun dan ekuitas Rp4,74 triliun.

Dalam suratnya kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), DCII menjelaskan, pertumbuhan aset disebabkan kenaikan aset tetap untuk penyelesaian fit-out sisa kapasitas gedung pusat data JK6.

Kemudian pembangunan gedung pusat data baru untuk memenuhi kapasitas terkontrak, serta pembelian cadangan lahan (landbank) baru untuk kebutuhan ekspansi perseroan ke depan.

Sementara, kenaikan liabilitas 24,1% dari akhir 2025 disebabkan kenaikan pinjaman jangka panjang yang berasal dari pencairan pinjaman (loan drawdown) tambahan.

“Terutama untuk mendanai investasi belanja modal (capex) fit-out gedung pusat data JK6 dan pembangunan gedung pusat data baru,” demikian DCII dalam penjelasannya.

(Baca: 10 Emiten dengan Kapitalisasi Pasar Terbesar di BEI pada Juni 2026)

Silakan beli artikel ini atau berlangganan unt… [content truncated]

*Tanggal Source Berita: Selasa, 28 Juli 2026 22:20:00 WIB*