Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
Jakarta, TopBusiness—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatatkan kinerja yang solid sepanjang pekan lalu dengan menguat 4,24% dan ditutup pada level 6.175,54 sekaligus membukukan kenaikan mingguan terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Penguatan tersebut didorong oleh kombinasi membaiknya sentimen global setelah inflasi Amerika Serikat menunjukkan perlambatan yang lebih cepat dari ekspektasi, serta meningkatnya optimisme terhadap fundamental ekonomi domestik menyusul keputusan S&P Global Ratings yang kembali mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada level BBB dengan Stable Outlook.
Dari sisi fundamental domestik, kepercayaan investor juga diperkuat oleh data investasi asing yang tetap menunjukkan ketahanan ekonomi nasional. Realisasi Foreign Direct Investment (FDI) pada Triwulan II 2026 mencapai Rp257,7 triliun, meningkat 27,4% YoY (year on year) dan menjadi level tertinggi sepanjang sejarah.
“Di tengah perlambatan ekonomi global dan masih berlangsungnya ketidakpastian geopolitik, capaian tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu destinasi investasi yang menarik bagi investor asing,” terang Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (Ipot), Imam Gunadi, pagi ini.
Dalam riset terbaru yang diterima Redaksi Majalah TopBusiness, ia menjelaskan: meski indeks berhasil menguat cukup signifikan, aktivitas perdagangan selama pekan lalu masih relatif rendah.
Salah satu faktor yang diperkirakan memengaruhi kondisi tersebut adalah berkurangnya perhatian pelaku pasar menjelang babak akhir Piala Dunia FIFA. Ehrmann & Jansen (2017) menemukan bahwa selama Piala Dunia FIFA 2010 dan 2014, volume perdagangan saham di berbagai negara dapat turun hingga 48% ketika tim nasional masing-masing sedang bertanding.
“Seiring berakhirnya turnamen tersebut, likuiditas pasar diperkirakan berpotensi meningkat kembali sehingga dapat menjadi faktor pendukung apabila momentum penguatan IHSG berlanjut,” tandas Imam.
Proyeksi Market di Musim Laporan Keuangan Kuartalan
Memasuki pekan 20-24 Juni 2026, pasar diperkirakan akan bergerak dengan katalis makro yang relatif terbatas sehingga fokus investor kemungkinan akan bergeser ke musim laporan keuangan emiten kuartalan.
“Hasil kinerja perusahaan diperkirakan akan menjadi penentu utama arah rotasi sektor maupun keberlanjutan aliran dana ke pasar saham domestik,“ terangnya.
Ia menambahkan dari dalam negeri, perhatian pasar akan tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia, pertumbuhan kredit p… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Senin, 20 Juli 2026 07:24:00 WIB*