Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Logika pasar biasanya sederhana: saham emiten emas naik ketika harga emas naik, dan tertekan ketika harga emas turun. Tapi pergerakan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) belakangan ini justru menantang logika itu.
Sepekan terakhir, saham ANTM menguat 5,86%. Namun, di periode yang sama harga emas dunia justru terkoreksi -2,53% dan harga emas Antam turun -1,54% menjadi Rp 2,61 juta per gram.
Pola inversi itu berlanjut ke akhir pekan. Pada Jumat (17/7), harga emas spot dunia berbalik menguat 1,03% ke US$ 4.016 per ons troi, tapi alih-alih ikut naik, saham ANTM justru terkoreksi -0,32% menjadi Rp 3.070 per saham.
Jika bukan harga emas dan bukan pula pelemahan rupiah, apa yang sebenarnya menggerakkan saham ANTM pekan ini?
Muhammad Wafi, Head of Research Korea Investments & Sekuritas Indonesia (KISI) menegaskan bahwa divergensi ini sama sekali bukan didorong fundamental komoditas. Ia mengidentifikasi tiga faktor yang menurutnya lebih relevan menjelaskan rebound ANTM.
Pertama, pemulihan teknikal dari level oversold pasca eksklusi dari indeks MSCI Small Cap. Kedua, aksi masuk kembali investor asing secara selektif pasca penegasan outlook stabil dari S&P Global terhadap peringkat kredit Indonesia. Ketiga, penguatan rupiah yang menekan biaya operasional berbasis impor perusahaan.
“Divergensi ANTM bukan didorong fundamental komoditas,” tegas Wafi kepada KONTAN, Kamis (16/7).
Baca Juga: Memangkas Emisi Baja Memakai Sinar Matahari
Ia juga menilai efek ikutan dari rally Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara umum lebih dominan dibanding faktor spesifik ANTM. Meski begitu, ada satu keunggulan struktural yang membuat ANTM relatif diminati investor institusi asing, yakni statusnya sebagai big cap komoditas yang tidak masuk daftar saham dengan kriteria ketat tertentu (HSC).
“Sehingga relatif bersih untuk lolos proses screening investor asing yang biasanya selektif,” sambungnya.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie melihat dari sudut yang lebih optimistis. Menurutnya, rebound ANTM merefleksikan sinergi antara sentimen pasar yang kondusif dengan fundamental perusahaan yang solid.
Sentimen positif itu, kata dia, didorong data inflasi Amerika Serikat (AS) yang berada di bawah ekspektasi pasar sehingga meredakan kekhawatiran kenaikan suku bunga lanjutan. Lalu ditambah penegasan peringkat kredit Indonesia dari S&P Global yang turut memberi katalis positif bagi pasar modal domestik.
“Kami menilai, kombinas… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Minggu, 19 Juli 2026 11:30:01 WIB*