Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
Reporter: Dimas Andi | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste-to-Energy (WtE) terus berlanjut. Sejumlah emiten pun ikut kecipratan oleh keberadaan proyek andalan pemerintah tersebut.
Sebagaimana diketahui, PT Danantara Investment Management (DIM) bersama PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) baru-baru ini mengumumkan delapan konsorsium terpilih untuk pengembangan proyek PSEL atau WTE Tahap II.
Dari sekian konsorsium, terdapat beberapa nama emiten yang ternyata terlibat dalam proyek tersebut. Misalnya, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang menggarap proyek PSEL di Serang Raya melalui anak usahanya Chandra Waste Energy yang tergabung dalam Konsorsium Masa Depan Energi Indonesia.
Selain itu, ada PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) yang menjadi bagian dari Konsorsium Bumi Biru Indoneia yang turut melibatkan SUS Indoplas. Konsorsium ini menggarap proyek PSEL di Lampung Raya.
Proyek PSEL di Surabaya Raya turut melibatkan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dan PT Astrindo Nusantara Infrastructure Tbk (BIPI). Jadi, proyek tersebut digarap oleh Konsorsium Mentari Citra Lestari yang beranggotakan PT Bakrie Power selaku anak usaha tidak langsung BNBR. Salah satu anggota lainnya dalam konsorsium tersebut adalah SUS Indonesia Holdings yang terafiliasi dengan BIPI.
Baca Juga: Danantara Tunjuk Mitra PSEL Tahap Kedua, Didominasi 4 Perusahaan Lokal
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, sejumlah emiten yang terlibat dalam proyek PSEL berpotensi memperoleh manfaat berupa bertambahnya sumber pertumbuhan pendapatan jangka panjang, meskipun dampak proyek tersebut tidak akan langsung signifikan pada tahap awal.
Model bisnis PSEL umumnya didukung kontrak jangka panjang selama 20–30 tahun dengan pemerintah daerah dan PLN, sehingga memberikan arus kas yang relatif stabil setelah fasilitas mulai beroperasi.
Bagi TPIA, proyek ini juga sejalan dengan strategi diversifikasi ke bisnis infrastruktur dan transisi energi, sehingga dapat memperluas portofolio di luar petrokimia. Sementara itu, OASA yang memang memiliki fokus pada pengelolaan limbah dan energi terbarukan, berpotensi memperoleh kontribusi yang lebih material terhadap pendapatan apabila proyek berjalan sesuai jadwal.
Di sisi lain, BNBR dan BIPI masih bergantung pada porsi kepemilikan dan peran afiliasinya dalam proyek PSEL, sehingga dampaknya terhadap kinerja keuangan kemungkinan lebih terbatas dalam jangka… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Kamis, 16 Juli 2026 20:38:05 WIB*