Laba JPMorgan Pecahkan Rekor, IPO SpaceX dan Trading Saham Jadi Penopang

Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.

Isi berita asli:
KOMPAS.com – JPMorgan Chase membukukan laba kuartal II 2026 tertinggi sepanjang sejarah.

Kinerja bank terbesar di Amerika Serikat itu ditopang lonjakan aktivitas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO), transaksi korporasi, dan perdagangan efek.

Seluruh lini bisnis JPMorgan mencatat pertumbuhan pendapatan. Divisi investment banking memperoleh dorongan besar dari meningkatnya aktivitas IPO di Amerika Serikat, termasuk pencatatan saham SpaceX milik Elon Musk yang menjadi IPO terbesar dalam sejarah.

JPMorgan menjadi salah satu penjamin emisi utama dalam transaksi tersebut.

“Kekuatan ini didukung oleh beberapa faktor pendorong, termasuk investasi modal yang didorong oleh AI, stimulus fiskal, dan manfaat dari regulasi yang lebih efisien,” kata Chief Executive Officer (CEO) JPMorgan Chase Jamie Dimon, dilansir Selasa (14/7/2026).

Baca juga: Trump Gugat JPMorgan Chase Rp 84,13 Triliun Terkait Penutupan Rekening

Sepanjang April hingga Juni 2026, JPMorgan membukukan laba bersih sebesar 21,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 383,78 triliun, atau 7,70 dollar AS per saham.

Pada periode yang sama tahun lalu, laba bersih tercatat 14,99 miliar dollar AS atau sekitar Rp 271,10 triliun, atau 5,24 dollar AS per saham.

Laba tersebut turut ditopang keuntungan sebesar 4,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 83,07 triliun dari kepemilikan saham JPMorgan di Visa.

Meski mencatat kinerja yang kuat, saham JPMorgan sempat turun sekitar 2 persen pada perdagangan prapasar setelah perseroan menaikkan proyeksi belanja operasional 2026 menjadi 107,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.946 triliun, dari sebelumnya 105 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.896 triliun.

Baca juga: Usai Rilis Laporan Keuangan, Saham JPMorgan Chase Anjlok

Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII), di luar bisnis pasar, naik 4 persen menjadi 23,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 428,98 triliun.

NII merupakan indikator utama profitabilitas bisnis kredit perbankan.

Pada kuartal II, rata rata nilai pinjaman JPMorgan tumbuh 10 persen.

Perseroan juga menaikkan proyeksi NII sepanjang 2026 menjadi 96,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.746,89 triliun, dari sebelumnya 95 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.719,61 triliun.

JPMorgan menilai daya beli konsumen masih cukup kuat. Namun, kondisi keuangan masyarakat berpenghasilan rendah tetap menjadi perhatian karena masih menghadapi tekanan akibat suku bunga tinggi dan kenaikan biaya hidup.

Dimon mengatakan sejumlah risiko masih… [content truncated]

*Tanggal Source Berita: Selasa, 14 Juli 2026 18:43:00 WIB*