Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, hingga saat ini masih ada 4 perusahaan yang akan mencatatkan saham perdana (Initial Public Offering/IPO). Direktur Penilaian Perusahan BEI Saidu Solihin menyebutkan, 4 calon emiten tersebut bergerak material dasar, konsumer non kritikal, hingga sektor kesehatan.
“Hingga saat ini, terdapat 4 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ujarnya dalam keterangan resminya, Senin (13/7/2026).
Adapun 4 calon emiten tersebut terdiri dari 2 perusahaan aset berskala kecil atau aset di bawah Rp 50 miliar, dan 2 perusahaan dengan aset berskala besar senilai di atas Rp 250 miliar.
Seperti diketahui, hingga 10 Juli 2026 telah tercatat 7 Perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan dana dihimpun Rp 2,16 triliun.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai berlanjutnya aktivitas Initial Public Offering (IPO) menjadi salah satu indikator positif terjaganya kepercayaan dunia usaha terhadap pasar modal nasional.
Momentum IPO kali ini menjadi istimewa karena merupakan IPO kedua di Indonesia pada tahun 2026 yang berlangsung di tengah dinamika pasar saham yang cukup tinggi. Meski demikian, berlanjutnya aktivitas IPO turut mencerminkan optimisme pelaku usaha terhadap prospek perekonomian nasional yang tetap terjaga.
Pada triwulan I tahun 2026, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,61%, menunjukkan resiliensi yang kuat di tengah dinamika ekonomi global. Kinerja positif tersebut didukung oleh konsumsi domestik yang tetap terjaga, meningkatnya aktivitas investasi, serta berbagai reformasi yang terus dilakukan Pemerintah untuk memperkuat iklim usaha.
“Selamat dan pecah telur bagi Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) yang baru, ini IPO pertama kali (sejak menjabat),” ujar Airlangga Hartarto di Gedung BEI di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Salah satu sektor yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi adalah industri makanan dan minuman. Pada triwulan I tahun 2026, sektor tersebut memberikan kontribusi sebesar 7,31% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 7,20%.
Industri makanan dan minuman juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,04%, yang didorong oleh meningkatnya permintaan selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Dari sisi investasi, industri makanan dan minuman terus menunjukkan kinerja yang positif. Pada triwulan I tahun 2026, realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) d… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Senin, 13 Juli 2026 09:30:49 WIB*