Komparasi Saham IPO Terlaris: Menguji Taji Saham RANS, PRDL, BACH & JECX di BEI

Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.

Isi berita asli:
Bisnis.com, JAKARTA — Sebanyak tujuh perusahaan telah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun ini, dan beberapa di antaranya mencatatkan kelebihan permintaan (oversubscribed). Namun, tingginya permintaan awal tersebut dinilai tidak serta-merta menjamin kinerja saham akan tetap cemerlang ke depannya.

Pasar kini menghadapi babak baru di mana diferensiasi performa antar-emiten baru setelah melantai di bursa mulai terlihat jelas.

Berdasarkan data perdagangan, seluruh emiten yang melantai tahun ini sukses mencetak rekor kelebihan permintaan. Namun, ketika menguji taji di pasar sekunder, persentase kenaikan harga sahamnya menunjukkan peta persaingan yang sangat kontras.

Rekor oversubscription terbesar dialami oleh saham PT RANS Entertainment Indonesia Tbk. (RANS), di mana manajemen mengungkapkan kelebihan permintaan terjadi sebesar hampir satu juta kali.

Namun, secara pertumbuhan harga setelah listing, RANS (+34,12%) masih berada di bawah bayang-bayang PT Prodia Diagnostics Line Tbk. (PRDL) yang melesat 81,67%, bahkan terpaut jauh dari PT BSA Logistics Indonesia Tbk. (WBSA) yang memimpin dengan lonjakan 429,17%.

Tingginya minat pada IPO RANS tidak lepas dari sentimen industri kreatif dan nama besar pendirinya. Direktur Utama RANS Nagita Slavina menuturkan bahwa IPO RANS menjadi bukti karya memiliki nilai yang diakui secara profesional di panggung ekonomi profesional.

“Industri kreatif tidak lagi berdiri di pinggiran. Kami sekarang berdiri sejajar di barisan terdepan bersama industri strategis lainnya untuk menggerakkan bangsa ini,” ujar Nagita, Jumat (10/7/2026).

Di sisi lain, Founder RANS Raffi Ahmad menyebut bahwa dirinya terinspirasi untuk mentransformasikan bisnis kreator menjadi institusi berbasis kekayaan intelektual yang mengadopsi model bisnis global Walt Disney. Raffi menganalogikan dirinya sebagai sosok Walt Disney, sedangkan RANS diposisikan “Disneyland” dengan aset seperti Rafathar, Rayyanza, produk FMCG, hingga wahana bermain Cipungland.

“Saya ingin membuktikan bahwa nama besar itu bisa berubah menjadi legacy yang kalau dikelola secara profesional akan menjadi baik. Jadi, kalau sudah tidak ada saya, RANS tetap hidup,” ujarnya di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (10/7/2026).

Dalam IPO-nya, RANS menawarkan sebanyak 2,52 miliar saham baru (20,02%) dengan harga penawaran Rp170 per saham dan menghimpun dana sebesar Rp429,25 miliar.

Melihat fenomena ini, Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang mengungkapkan bahwa pasar kini mulai l… [content truncated]

*Tanggal Source Berita: Senin, 13 Juli 2026 08:15:08 WIB*