PEFINDO Proyeksikan Penerbitan Obligasi Korporasi Tembus Rp196 Triliun

Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.

Isi berita asli:
PEFINDO memproyeksikan penerbitan obligasi korporasi 2026 hingga Rp196,86 triliun meski semester I melambat, didorong refinancing dan minat investor.

KABARBURSA.COM – PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) memperkirakan penerbitan surat utang korporasi sepanjang 2026 masih akan tetap terjaga meski realisasi pada semester I menunjukkan perlambatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kebutuhan pembiayaan kembali (refinancing) yang masih besar serta permintaan investor terhadap instrumen pendapatan tetap dinilai akan menopang aktivitas penerbitan hingga akhir tahun.

Direktur Pemeringkatan PEFINDO Hendro Utomo, mengatakan nilai penerbitan surat utang korporasi sepanjang 2026 diperkirakan berada di kisaran Rp154 triliun hingga Rp196,86 triliun, dengan titik tengah mencapai Rp175,77 triliun.

Menurut Hendro, penerbitan surat utang korporasi pada semester I 2026 memang masih mencatat perlambatan secara tahunan, tetapi penurunannya relatif terbatas.

“Selama semester I tahun 2026, penerbitan surat utang korporasi cenderung menurun dibandingkan periode yang sama tahun 2025,” kata Hendro dalam Media Forum PEFINDO yang digelar secara daring, dikutip Ahad, 12 Juli 2026.

Data PEFINDO menunjukkan total penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) pada Januari hingga Juni 2026 mencapai Rp87,35 triliun. Nilai tersebut turun 3,91 persen dibandingkan semester I 2025 yang sebesar Rp90,90 triliun.

Meski demikian, nilai penerbitan masih jauh lebih besar dibandingkan surat utang yang jatuh tempo pada periode yang sama. Sepanjang semester I 2026, surat utang yang jatuh tempo tercatat Rp55,20 triliun sehingga rasio penerbitan terhadap jatuh tempo mencapai 158,2 persen, lebih tinggi dibandingkan semester I 2025 sebesar 140,3 persen.

Hendro menjelaskan, pola penerbitan tahun ini juga mengalami sedikit perubahan. Jika pada 2025 aktivitas penerbitan paling tinggi terjadi pada Maret dan Juni, pada 2026 penerbitan terbesar justru berlangsung pada Februari dan Maret.

“Ini mungkin lebih mengacu kepada kondisi pasar. Mungkin pada bulan-bulan tersebut memang ada momentum yang baik bagi penerbit untuk menerbitkan surat utang,” ujarnya.

Ia menambahkan, secara historis bulan Juni biasanya menjadi periode penerbitan yang cukup ramai karena banyak perusahaan memanfaatkan laporan keuangan audit akhir tahun sebagai dasar memperoleh pernyataan efektif dari regulator. Namun, aktivitas tersebut terkadang bergeser ke Juli.

Dari sisi sektor, perusahaan multifinance menjadi penerbit… [content truncated]

*Tanggal Source Berita: Minggu, 12 Juli 2026 13:39:25 WIB*