IPO Saham Sepi, BEI Klaim Fokus Kualitas dan Emiten EBUS

Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.

Isi berita asli:
The Path To Financial Freedom, EduFulus  – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakui bahwa aktivitas penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) hingga semester pertama tahun ini cenderung lebih sepi dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya.

Kendati demikian, BEI menegaskan bahwa indikator keberhasilan pasar modal tidak hanya diukur dari kuantitas transaksi semata.

SIMAK JUGA: 3 Kasus Skandal dan Manipulasi IPO Saham, Mirae Asset Sekuritas, KGI Sekuritas dan UOB Kay Hian Sekuritas Indonesia

Di tengah melandainya IPO saham, pasar modal Indonesia justru mencatat tren positif pada instrumen pendanaan lain. Banyak korporasi yang beralih memanfaatkan pasar modal melalui penerbitan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS).

Meskipun pasar saham baru bergerak moderat, pasar surat utang menunjukkan gairah yang signifikan. Berdasarkan data BEI hingga 9 Juli 2026, instrumen EBUS menjadi alternatif utama bagi perusahaan yang membutuhkan injeksi modal.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, mengungkapkan bahwa otoritas bursa telah mencatat 71 emisi EBUS yang diterbitkan oleh 43 perusahaan. Dari penerbitan surat utang dan sukuk tersebut, total dana yang berhasil dihimpun mencapai angka yang fantastis, yakni Rp76,1 triliun.

SIMAK JUGA: Alamak, Inilah Performa Saham-Saham yang IPO Lewat Shinhan Sekuritas

Angka ini menjadi bukti nyata bahwa kepercayaan investor terhadap instrumen pendapatan tetap (fixed income) di Indonesia masih sangat kuat, dan pasar modal tetap berfungsi optimal sebagai penyedia likuiditas bagi dunia usaha.

Di sisi lain, panggung IPO saham memang mencatatkan volume yang relatif rendah. Hingga periode 9 Juli 2026, tercatat baru ada lima perusahaan yang resmi melantai di bursa. Jumlah ini belum memasukkan rencana pencatatan dari PT Rans Entertainment Tbk (RANS) dan PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL).

Dari lima perusahaan yang sudah melakukan listing tersebut, total penghimpunan dana yang masuk ke pasar modal mencapai Rp1,67 triliun.

Menanggapi realisasi yang terbatas ini, Saidu Solihin memberikan penjelasan strategis dari sudut pandang otoritas bursa.

“Memang lebih sedikit pada tahun ini. Namun kami tidak menilai keberhasilan kami hanya berdasarkan jumlah transaksi atau nilai nominal dari kegiatan penghimpunan dana,” ujar Saidu dalam keterangan resminya, Kamis (10/7).

Saat ini, BEI secara sadar menggeser fokus mereka dari sekadar mengejar kuantitas emiten baru menjadi penguatan kualitas emiten yang melantai. Langkah… [content truncated]

*Tanggal Source Berita: Minggu, 12 Juli 2026 10:26:22 WIB*