Pelajaran mahal yang saya dapat setelah menjual saham ANTM lalu membeli BBRI: Saya pikir sudah berhitung dengan benar tapi pasar berpendapat lain

Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.

Isi berita asli:
MOJOK.CO – Pelajaran itu tidak gratis, tapi harganya sepadan. Ini pengalaman saya menjual saham ANTM lalu membeli BBRI.

Pada suatu titik di tahun 2024, saya membuat keputusan yang pada saat itu terasa sangat masuk akal. Jadi, saya menjual saham ANTM atau Aneka Tambang, lalu membeli BBRI.

Untuk yang belum tahu, Aneka Tambang adalah perusahaan tambang pelat merah. Harga saham ANTM naik dan turun mengikuti irama harga komoditas dunia. Emas, nikel, logam.

Semua bergantung pada selera pasar global yang tidak bisa saya kendalikan. Bahkan tidak bisa saya prediksi dengan baik.

Itulah yang membuat saya tidak nyaman. Yah, bukan karena perusahaannya buruk, tapi terlalu banyak faktor yang menentukan nasib harga ANTM dan itu jauh dari jangkauan saya.

Nah, seperti saya singgung di atas, uang hasil menjual ANTM saya belikan BBRI. Alasannya sederhana dan, menurut saya waktu itu, sangat solid.

BBRI bukan bank biasa. Ini bank yang cabangnya ada sampai pelosok desa. Bank yang pasarnya adalah jutaan pelaku UMKM mulai dari pedagang kecil, petani, sampai pengrajin. Mereka adalah tulang punggung ekonomi rakyat Indonesia.

Seberapa mungkin bank seperti ini goyah? Bisnis yang menyentuh kehidupan nyata jutaan orang terasa jauh lebih bisa saya pahami ketimbang fluktuasi harga nikel di pasar London. Saya pikir saya sedang membuat pilihan yang lebih cerdas, terukur, dan aman.

Saya merasa sudah berhitung dengan benar. Tapi ternyata, pasar punya pendapat lain.

Dua tahun kemudian, saya membuka aplikasi portofolio dengan perasaan yang sulit saya jelaskan. Saham ANTM, yang saya jual, harganya melejit. Sedangkan saham BBRI, yang saya beli di harga tinggi, kini tinggal separuhnya.

Dari sisi capital gain, jelas kerugian saya nyata. Tidak perlu saya menutup-nutupi. Saya sudah cukup lama berinvestasi untuk tahu bahwa menyangkal kerugian hanya memperlambat proses belajar.

Akui dulu, pahami kemudian. Karena kalau kita sibuk membela keputusan yang sudah terbukti keliru, kita tidak akan pernah benar-benar belajar dari sana.

Menariknya, bukan bisnisnya yang bermasalah. BBRI tetap mencatat laba, jaringannya tetap meluas, jutaan nasabah UMKM-nya tidak ke mana-mana.

Yang menekan harganya adalah faktor-faktor di luar kendali manajemen. Mulai dari dana asing keluar besar-besaran akibat rebalancing indeks MSCI, suku bunga acuan Bank Indonesia naik, rupiah melemah, dan segmen kredit mikro menghadapi tekanan akibat inflasi yang menggerus daya beli debitur kecil. Semua itu menghantam sentimen pas… [content truncated]

*Tanggal Source Berita: Kamis, 09 Juli 2026 07:53:14 WIB*