Pada Senin, 28 Juni 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sebesar 1,72 persen menjadi 5.896,13 dari level awal perdagangan. Namun, dalam sesi pertama perdagangan berikutnya, IHSG kembali naik ke posisi 5.899,40, mencatatkan peningkatan sebesar 0,87 persen. Peningkatan tersebut terjadi di tengah dinamika pasar yang cermati perubahan dalam laporan Non-Farm Payroll (NFP) dari Amerika Serikat.
Pada peri perdagangan sepekan, saham-sejahat berkapitalisasi besar menjadi penggerak utama IHSG. Perbankan dan emiten milik konglomerasi tercatat sebagai pemberat penurunan sepanjang pekan. Hal ini diiringi dengan pola net sell asing yang terjadi pada awal Juli 2026, mendorong beberapa saham besar seperti Bank Central Asia (BCA) untuk menunjukkan kinerja yang lebih mengkhawatirkan.
PT Bank Central Asia Tbk atau BCA, salah satu perbankan berkapitalisasi tinggi, mencatatkan penurunan 6,33% dari harga awal perdagangan. Hal ini mempengaruhi pergerakan IHSG secara signifikan dan menunjukkan bahwa saham-saham tersebut merupakan aset penting yang dapat membawa dampak terhadap kinerja pasar sebagai entitas besar di sektor keuangan.
Dalam konteks lebih luas, PMMP, yang terafiliasi dengan Kaesang Pangarep (putra bungsu Joko Widodo), juga mengalami penurunan berarti. Perusahaan ini telah mengalami penghentian perdagangan saham sementara karena utang terbesar sekitar Rp 3 triliun dari perbankan lokal dan asing, yang menimbulkan krisis keuangan internal. Dengan demikian, pertumbuhan pasar dapat disesuaikan dengan dampak yang ditimbulkannya pada struktur harga saham dan investasi publik di pasar efek Indonesia.
**Sentimen Saham:**
* **Sentimen Positif:** –
* **Sentimen Negatif:** BCA
*Tanggal Source Berita: Rabu, 08 Juli 2026 13:48:08 WIB*