Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
Telset.id – Bending Spoons, konglomerat teknologi asal Milan, berhasil mencatatkan debut gemilang di bursa Nasdaq pekan ini. Kapitalisasi pasar perusahaan sempat menyentuh lebih dari USD 25 miliar atau setara Rp400 triliun, menegaskan kepercayaan investor terhadap strategi akuisisi dan transformasi digital yang dijalankannya.
Meskipun harga saham sedikit terkoreksi setelahnya, valuasi Bending Spoons saat ini masih dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan valuasi privat sebelumnya yang mencapai USD 11 miliar. Lonjakan ini mengonfirmasi bahwa pasar memberikan apresiasi besar terhadap portofolio digital yang dimiliki, termasuk Meetup, Eventbrite, WeTransfer, dan Evernote.
Pendekatan Bending Spoons memiliki kemiripan dengan private equity, namun dengan perbedaan mendasar: perusahaan tidak menjual kembali merek yang diakuisisi. Fokus utama mereka adalah meningkatkan profitabilitas melalui teknologi, kecerdasan buatan (AI), serta strategi monetisasi yang sering kali kontroversial, seperti kenaikan harga dan PHK massal.
Berbicara kepada TechCrunch, salah satu pendiri sekaligus chief product officer Matteo Danieli mengakui bahwa sebagian kritik muncul karena produk seperti Evernote sangat dicintai oleh penggunanya. Namun, ia menegaskan bahwa retensi pelanggan tetap “stabil secara luar biasa” meskipun berbagai perubahan diterapkan.
Hingga Maret 2026, portofolio Bending Spoons melayani lebih dari 500 juta pengguna aktif bulanan dan lebih dari 9 juta pelanggan berbayar bulanan. Angka ini membantah anggapan bahwa Bending Spoons hanya membeli perusahaan-perusahaan yang sudah mati.
Joe Hyrkin, pengusaha yang menjual platform penerbitan digital Issuu ke Bending Spoons pada 2024, menulis di LinkedIn setelah IPO: “’Merek internet lama’ adalah kerangka yang salah. Mereka mengakuisisi produk dengan perilaku pelanggan nyata, lalu mengintegrasikannya ke dalam sistem terpusat yang mencakup produk, teknik, data, monetisasi, AI, dan disiplin operasional.”
Strategi ini terbukti berhasil secara finansial. Bending Spoons melaporkan pendapatan sebesar USD 1,31 miliar pada 2025. Kapitalisasi pasar yang tinggi menunjukkan bahwa investor mengantisipasi pertumbuhan yang lebih besar lagi di masa depan.
Bending Spoons lahir dari sisa-sisa Evertale, sebuah startup asal Kopenhagen yang berpartisipasi dalam Disrupt SF 2011’s Startup Alley dan mengumpulkan dana awal untuk aplikasi berbagi foto bernama Wink. Evertale gagal tidak lama kemudian, dan para investornya bisa keluar. Namun, par… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Minggu, 05 Juli 2026 22:03:15 WIB*