Strategy mampu redam panik pasar, analis menilai hanya buying time?

Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.

Isi berita asli:
JAKARTA — Perusahaan pemegang bitcoin terbesar di dunia, Strategy (sebelumnya bernama MicroStrategy), berhasil meredam kekhawatiran investor setelah merombak strategi pengelolaan modalnya.

Seperti dikutip dari CryptoSlate pada hari Rabu (3/7), namun, sejumlah analis menilai perubahan tersebut juga menandai berakhirnya dominasi perusahaan sebagai motor utama permintaan Bitcoin.

Kekhawatiran pasar muncul setelah saham preferen unggulan Strategy, STRC, anjlok hingga US$71,25 pada 26 Juni 2026.

Padahal, instrumen tersebut dirancang untuk diperdagangkan mendekati nilai nominal US$100.

Penurunan tajam itu memicu pertanyaan mengenai kemampuan Strategy membayar dividen kepada investor sekaligus terus membeli Bitcoin tanpa harus menjual aset kripto yang dimilikinya atau menerbitkan saham baru.

Sebagai respons, perusahaan yang dipimpin pendiri sekaligus Chairman Michael Saylor tersebut meluncurkan serangkaian kebijakan baru.

Strategy menaikkan dividen tahunan STRC dari 11,5% menjadi 12%, menetapkan kebijakan cadangan kas baru, mengumumkan program pembelian kembali (buyback) saham preferen senilai hingga US$1 miliar, serta menyetujui pembelian kembali saham biasa dengan nilai yang sama.

Untuk pertama kalinya, Strategy juga memperkenalkan program monetisasi bitcoin yang memungkinkan perusahaan menjual sebagian kepemilikan Bitcoin apabila dibutuhkan guna menjaga kondisi keuangan.

Langkah tersebut langsung mendapat respons positif dari pasar. Dalam sepekan terakhir, saham MSTR melonjak sekitar 18% hingga mendekati US$100, sementara STRC menguat sekitar 17% ke kisaran US$87.

Meski berhasil memulihkan kepercayaan investor, analis menilai kebijakan tersebut belum menyelesaikan persoalan mendasar yang dihadapi perusahaan.

Head of Research Galaxy Digital, Alex Thorn, mengatakan paket kebijakan baru memberi ruang gerak yang lebih luas bagi Strategy ketika harga bitcoin sedang melemah dan pasar saham preferen mengalami tekanan.

Namun, menurutnya, struktur permodalan perusahaan masih menghadapi risiko yang sama.

Strategy masih memiliki kewajiban pembayaran dividen secara berkala kepada pemegang saham preferen serta utang obligasi konversi senilai sekitar US$6,7 miliar yang akan jatuh tempo pada 2027 dan 2028.

Selain itu, model bisnis perusahaan tetap bergantung pada tiga faktor utama:

Apabila salah satu faktor tersebut terganggu, tekanan berpotensi menyebar ke seluruh struktur permodalan perusahaan.

Chief Investment Officer Arca, Jeff Dorman, memiliki pandangan … [content truncated]

*Tanggal Source Berita: Minggu, 05 Juli 2026 21:00:00 WIB*