Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
JAKARTA — SpaceX menjadi sorotan pasar setelah resmi melantai di bursa dan langsung mencetak valuasi sekitar US$2,1 triliun, menjadikannya salah satu perusahaan paling bernilai di dunia.
Seperti dikutip dari The Motley Fool pada hari Selasa (2/7), namun, di balik kapitalisasi pasar yang fantastis tersebut, perusahaan milik Elon Musk itu masih membukukan kerugian miliaran dolar AS.
SpaceX resmi melakukan initial public offering (IPO) pada 12 Juni 2026 dengan harga saham US$135 per lembar.
Perusahaan berhasil menghimpun dana sebesar US$75 miliar, menjadikannya IPO terbesar dalam sejarah.
Kurang dari satu bulan setelah pencatatan saham, valuasi SpaceX telah menembus US$2,1 triliun.
Nilai tersebut menempatkannya sejajar dengan perusahaan teknologi terbesar dunia, meski kinerja keuangannya masih jauh dari kata menguntungkan.
Berdasarkan prospektus IPO, SpaceX membukukan pendapatan sebesar US$18,7 miliar sepanjang 2025, naik 33% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, perusahaan mencatat rugi bersih sebesar US$4,9 miliar.
Kerugian tersebut berlanjut pada kuartal I 2026 dengan rugi bersih mencapai US$4,28 miliar, sehingga total kerugian dalam 12 bulan terakhir mencapai sekitar US$9,4 miliar, sementara total pendapatan mencapai sekitar US$19,3 miliar.
Meski demikian, kerugian tersebut bukan berasal dari bisnis utama yang melemah. Sebaliknya, SpaceX masih memiliki unit usaha yang sangat menguntungkan.
Layanan internet satelit Starlink menjadi penyumbang terbesar pendapatan perusahaan dengan nilai mencapai US$11,4 miliar atau sekitar 61% dari total pendapatan 2025.
Bisnis tersebut juga menghasilkan laba operasional sebesar US$4,4 miliar.
Sebagian besar kerugian SpaceX berasal dari investasi besar-besaran pada pengembangan roket Starship serta ekspansi bisnis kecerdasan buatan (AI) melalui xAI, yang kini telah menjadi bagian dari SpaceX.
Perusahaan mengalokasikan sekitar US$3 miliar per tahun untuk riset dan pengembangan Starship. Di sisi lain, bisnis AI membutuhkan investasi komputasi yang sangat besar sehingga turut membebani kinerja keuangan.
Dengan kata lain, laba dari Starlink saat ini digunakan untuk membiayai dua proyek jangka panjang yang masih membutuhkan investasi besar.
Valuasi SpaceX juga memunculkan pertanyaan di kalangan investor. Dengan kapitalisasi pasar mencapai US$2,1 triliun, saham perusahaan diperdagangkan lebih dari 100 kali pendapatan tahunan (price-to-sales ratio), jauh di atas rata-rata perusahaan teknologi global.
Artinya, pasar… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Minggu, 05 Juli 2026 17:00:00 WIB*