Simak Rekomendasi Saham JPFA, MAIN, CPIN dari Analis Berikut

Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.

Isi berita asli:
Reporter: Alya Fathinah | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek emiten sektor unggas (poultry) dinilai masih menarik pada paruh kedua 2026 meski harga ayam hidup mulai mengalami normalisasi. Permintaan yang tetap terjaga, terutama dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penurunan biaya bahan baku pakan menjadi penopang kinerja sejumlah emiten. Namun, investor tetap perlu mencermati risiko pelemahan harga ayam, kenaikan biaya pakan, hingga fluktuasi nilai tukar rupiah.

Sejumlah analis memberikan rekomendasi saham emiten sektor poultry. Simak ulasan lengkap rekomendasi saham berikut ini.

Segmen makanan beku masih menjadi salah satu pilar pertumbuhan strategis JPFA pada 2026, mencerminkan permintaan yang tetap kuat di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang. Konsumsi makanan beku di Indonesia pada 2025 tercatat rata-rata mencapai Rp 12,2 triliun per bulan atau tumbuh 6,9% secara tahunan (YoY), sehingga menjadi landasan bagi ekspansi bisnis perseroan. JPFA terus memperkuat posisinya sebagai salah satu dari tiga produsen makanan beku terbesar di Indonesia melalui merek SoGood.

Di sisi kinerja keuangan, JPFA membukukan pendapatan sebesar Rp 17,71 triliun pada kuartal I-2026 atau naik 23,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 14,33 triliun. Laba bersih perseroan juga melonjak 167,1% YoY menjadi Rp 1,81 triliun dari Rp 680,4 miliar.

Baca Juga: Skema Impor Bungkil Kedelai Topang Margin, Sektor Poultry Masih Layak Dikoleksi

Meski demikian, kinerja kuartal II-2026 diperkirakan menghadapi tekanan akibat normalisasi harga unggas sejak April 2026. Harga ayam hidup turun menjadi Rp 19.600 per kilogram atau terkoreksi 16,2% secara bulanan (MoM), sedangkan harga DOC turun menjadi Rp 5.600 per ekor atau melemah 13,6% MoM. Tekanan terhadap margin diperkirakan dapat diredam oleh penurunan harga soybean meal (SBM) menjadi US$ 308,5 per ton dari US$ 334,1 per ton pada awal Mei 2026, sehingga biaya pakan menjadi lebih rendah.

Kinerja MAIN pada kuartal III-2026 diperkirakan masih tumbuh positif, meski tidak sekuat semester pertama tahun ini. Prospek tersebut ditopang oleh harga ayam hidup (live bird) dan DOC yang relatif stabil serta permintaan domestik yang mulai membaik.

Di sisi lain, perseroan masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kenaikan harga bahan baku pakan, khususnya soybean meal (SBM), fluktuasi nilai tukar rupiah karena sebagian besar bahan baku masih diimpor, hingga potensi kelebihan pasokan DOC… [content truncated]

*Tanggal Source Berita: Minggu, 05 Juli 2026 16:15:50 WIB*