Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
Reporter: Dimas Andi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja indeks saham sektor energi atau IDX Energy masih terpuruk kendati sempat ada euforia kenaikan harga komoditas energi beberapa waktu lalu. Potensi pemulihan kinerja saham sektor energi tetap ada, meski bersifat selektif pada paruh kedua tahun ini.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), IDX Energy telah terkoreksi 39,66% year to date (ytd) ke level 2.687,107 hingga Jumat (3/7). IDX Energy menjadi indeks sektoral dengan kinerja terburuk hingga awal semester II-2026. Kinerja IDX Energy bahkan lebih buruk ketimbang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah 32,05% ytd hingga akhir pekan lalu.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty menyampaikan, pelemahan tajam indeks saham energi sepanjang tahun ini tidak hanya dipicu oleh sentimen makro, melainkan juga disebabkan oleh sentimen sektoral.
Baca Juga: Pilihan Saham LQ45 di Semester II-2026, Selektif Memburu Peluang Rebound
Dari sisi makro, meningkatnya ketidakpastian global, suku bunga acuan yang masih tinggi, pelemahan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya aversi risiko telah mendorong investor untuk mengurangi eksposur pada saham-saham berbasis komoditas.
Sementara dari sisi sektoral, normalisasi harga minyak mentah dan batubara dunia setelah sempat melonjak akibat konflik geopolitik membuat ekspektasi laba emiten energi akan menurun. Selain itu, ketidakpastian terkait kebijakan energi, transisi menuju energi bersih, serta potensi perubahan regulasi royalti dan domestic market obligation (DMO) turut membatasi minat investor.
Senada, Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menyebut, koreksi indeks sektor energi tertekan akibat kombinasi dua tekanan sekaligus. Dari sisi makro, outflow dan asing yang masif dan koreksi IHSG sepanjang 2026 menghantam saham-saham energi berkapitalisasi besar yang menjadi target utama aksi jual investor asing.
Adapun sentimen negatif yang bersifat sektoral datang dari kebijakan ekspor terpusat melalui Danantara yang berpotensi menekan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) batubara, kenaikan tarif royalti yang diwacanakan, dan implementasi DMO yang belum memberi kepastian harga.
“Hal ini membuat investor memilih mengurangi eksposur ke sektor energi, meski harga komoditas energi global masih cukup kondusif pada semester I-2026,” kata dia, Jumat (3/7/2026).
Baca Juga: Begini Respons GOTO Soal Isu PHK Tokopedia
Kepala Riset Korea Investment & Sekurit… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Minggu, 05 Juli 2026 13:01:17 WIB*