Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
SERUJI.CO.ID – Ketika sebuah IPO menetapkan harga final di batas tertinggi dari kisaran bookbuilding, pasar biasanya hanya membutuhkan satu kata untuk mendeskripsikannya: laris. Itulah yang terjadi dengan IPO Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL). Dari rentang penawaran awal Rp100–Rp120, harga final ditetapkan di Rp120, batas atas penuh.
Penawaran umum kini sedang berlangsung mulai 1 Juli hingga 7 Juli 2026, dengan penjatahan 7 Juli, distribusi saham 8 Juli, dan listing perdana di BEI pada 9 Juli 2026. Waktu yang tersisa untuk memesan semakin sempit. Pertanyaannya bukan lagi apakah PRDL diminati, tapi berapa kali ia akan cetak ARA di hari pertama, dan apa yang harus Anda ketahui sebelum menekan tombol pesan.
PT Prodia Diagnostic Line Tbk, yang beroperasi di bawah merek dagang Proline, bukan sekadar anak usaha Grup Prodia yang numpang nama. Perusahaan ini adalah produsen reagen dan instrumen laboratorium In Vitro Diagnostics (IVD) yang berdiri sejak 2010, dengan pabrik di Kawasan Industri Jababeka III, Cikarang.
IVD adalah kategori alat kesehatan yang digunakan untuk pemeriksaan diagnostik dari sampel yang diambil dari tubuh manusia, darah, urine, jaringan, tanpa kontak langsung dengan pasien. Segmen produk yang dibuat PRDL mencakup kimia klinik, hematologi, imunologi, dan biomolekular. Dengan kata lain, ketika dokter memerintahkan pemeriksaan darah lengkap atau kadar kolesterol di laboratorium Prodia, perangkat dan reagen yang digunakan sangat mungkin produk PRDL.
Yang membuat posisi PRDL unik adalah fakta bahwa tidak ada produsen IVD domestik terintegrasi lain di Indonesia yang memiliki skala dan sertifikasi setara. PRDL telah mengantongi sertifikasi CPAKB (Cara Pembuatan Alat Kesehatan yang Baik) dari Kementerian Kesehatan, dan saat ini memiliki sekitar 1.083 SKU aktif yang didistribusikan ke 370 kabupaten/kota di 38 provinsi. Jaringan distributornya berkembang pesat: dari hanya 21 distributor di 2024 menjadi 45 distributor di 2025, lebih dari dua kali lipat dalam satu tahun.
Sebelum IPO, PRDL dimiliki sepenuhnya oleh entitas Grup Prodia. PT Prodia Utama memegang 51%, PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) memegang 39%, dan Diasys Diagnostic Systems GmbH dari Jerman memegang 10%. Ketiganya tidak menjual satupun saham lama dalam IPO ini, seluruh 522,9 juta saham yang ditawarkan adalah saham baru. Ini sinyal kepercayaan diri manajemen yang kuat.
*Persentase pasca-IPO bersifat estimasi berdasarkan total 1.743.000.000 lembar pasca-IPO. ESA 7% dihitung dari saham… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Rabu, 01 Juli 2026 10:24:32 WIB*