Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
Untuk Masuk dan Daftar akan kami arahkan ke laman Subscribe Investor Daily
JAKARTA, investor.id – PT Arkora Hydro Tbk (ARKO), emiten pembangkit listrik energi terbarukan, memiliki sejumlah proyek dengan kebutuhan dana besar yang bisa membuat kinerjanya makin nyetrum. ARKO didukung oleh Grup Astra dan sahamnya juga diakumulasi pengusaha sekaliber Happy Hapsoro.
Hal itu terungkap dari hasil Closed-Door Meeting antara Stockbit dan manajemen Arkora Hydro (ARKO), yang dikutip pada Minggu (28/6/2026).
Arkora Hydro merupakan produsen listrik swasta tenaga air aliran sungai yang didirikan sejak 2010. Perseroan menjual 100% listriknya ke PLN lewat kontrak jangka panjang hingga 30 tahun, dengan kapasitas terkontrak 62,8 MW.
“Dari jumlah tersebut, sebanyak 32,8 MW di antaranya sudah beroperasi di 4 lokasi berbeda,” tulis Investment Analyst Stockbit Group, Theodorus Melvin dalam laporannya.
Emiten berkode saham ARKO tersebut menargetkan produksi listrik tumbuh sekitar 30% per tahun selama periode 2026-2027, masing-masing menjadi 197 GWh pada 2026 dan 257 GWh pada 2027.
Target tersebut seiring mulai operasionalnya PLTA Kukusan 2 (5,4 MW) secara komersial pada Februari 2026. Target itu juga bakal didukung oleh PLTA Tomoni (10 MW) yang beroperasi secara komersial tahun ini, dimana progres konstruksi telah mencapai 73%.
ARKO juga tengah menyelesaikan konstruksi PLTA Pongbembe (20 MW), yang telah dimulai sejak akhir 2025 dengan target beroperasi secara komersial pada 2029.
Di sisi lain, ARKO mewaspadai potensi penurunan produksi saat kemarau, yang pada 2026 diprediksi lebih kering seiring potensi El Nino pada semester II-2026. Namun, volatilitas cuaca dinilai termitigasi karena proyeksi produksi sejak awal memperhitungkan studi hidrologi jangka panjang.
Dalam 4 tahun terakhir (2021-2025), produksi listrik ARKO tumbuh 12,2% CAGR, dengan pertumbuhan pendapatan 14,7% CAGR dan laba bersih sekitar 6,9% CAGR.
“Berdasarkan estimasi kami, margin EBITDA ARKO berkisar 40-70%. Berbeda dengan karakteristik perusahaan utilitas pada umumnya yang cenderung memiliki margin EBITDA stabil, margin EBITDA ARKO bergerak fluktuatif seiring naik turunnya porsi pendapatan konstruksi serta beban umum dan administrasi,” ungkap Melvin.
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
*Tanggal Source Berita: Minggu, 28 Juni 2026 15:02:19 WIB*