Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
Di tengah kondisi pasar yang tidak baik-baik saja, investor tidak akan masuk ke saham IPO tanpa pertimbangan matang.
Aksi penawaran saham perdana atau Initial Public Offering yang disingkat IPO di Bursa Efek Indonesia terbilang sangat sepi pada semester pertama 2026. Memasuki semester kedua, rombongan perusahaan baru siap meramaikan pasar modal kendati kondisi kinerja pasar saat ini tidak baik-baik saja. Bagaimana investor perlu membaca dan memanfaatkan tren ini untuk bisa mendapat keuntungan?
Enam perusahaan membawa angin segar sekaligus teka-teki bagi para pemburu saham perdana. Sektor kesehatan mendominasi parade IPO kali ini dengan mengirimkan tiga perwakilannya, disusul oleh sektor infrastruktur, media-hiburan, serta konsumer. Kehadiran nama-nama besar di belakang para calon emiten ini menambah daya tarik.
Pertama, ada PT Niramas Utama Tbk yang memproduksi makanan pencuci mulut nata de coco bermerek INACO. Pionir pasar berbasis kelapa selama 35 tahun ini, melepas maksimal 350 juta saham dengan kisaran harga Rp 900–Rp 1.120 per saham pada penawaran awal sampai 22 Juni lalu. Mereka menjadwalkan pencatatan saham (listing) pada 7 Juli 2026.
Perusahaan yang akan tercatat dengan kode JELI ini membidik dana segar hingga Rp 392 miliar. Berdasarkan prospektus, sebesar 69,4 persen dana IPO dialokasikan untuk belanja modal produktif, termasuk penguatan pasokan melalui akuisisi PT Supra Natami Utama.
Secara kinerja, laba bersih perusahaan pada 2025 melonjak 235 persen berkat efisiensi struktural. Namun, ada penurunan pendapatan terjadi dalam dua tahun terakhir. Adapun valuasi perusahaan Price to Earnings (P/E) terbilang premium di kisaran 31–39 kali.
Selanjutnya, ada PT Bach Multi Global Tbk dengan kode BACH, perusahaan distributor genset dan penyedia jasa infrastruktur telekomunikasi ini menawarkan 615 juta saham di rentang harga Rp 400–Rp 500 per saham. Perusahaan ini didukung oleh jaringan Grup Djarum.
Mereka menargetkan listing pada 7 Juli 2026. BACH berpotensi meraup dana Rp 246 miliar hingga Rp 307,5 miliar. Kinerja keuangan sepanjang 2025 tampil solid dengan pendapatan Rp 1,73 triliun atau tumbuh 39,66 persen dan laba bersih Rp 155,55 miIiar (melesat 97,54 persen). Mayoritas dana hasil emisi akan digunakan untuk modal kerja pembelian 436 unit genset baru.
Selanjutnya, perusahaan operator jaringan rumah sakit dan klinik mata terkenal, Jakarta Eye Center, PT Nitrasanata Dharma Tbk. Perusahaan ini disokong grup perusahaan besar PT Elang Mahkota Teknol… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Minggu, 28 Juni 2026 11:55:00 WIB*