Bursa saham Indonesia telah mendapatkan napas tambahan setelah penyedia indeks global MSCI menunda evaluasi status pasar modal Indonesia hingga November 2026. Namun, penundaan ini belum cukup untuk memulihkan kepercayaan investor. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), yang dikenal dengan penerapan prinsip ESG sebagai salah satu strategi bisnisnya, menegaskan pentingnya pengintegrasian ESG dalam operasional perusahaan dan penilaian kualitas pertumbuhan.
Direktur Utama PGEO Ahmad Yani mengatakan, ‘ESG bukan hanya kepatuhan, melainkan fondasi untuk menjaga keandalan operasional, memperkuat tata kelola, menciptakan nilai bagi masyarakat, serta mendukung transisi energi nasional.’ Dalam periode pertama tahun 2026, PGEO mencatat peningkatan produksi listrik sebesar 15,22 persen YoY, atau setara dengan 1.370 gigawatt-hour (GWh). Selain itu, perusahaan juga mengelola 15 wilayah kerja panas bumi dengan kapasitas terpasang mencapai 1.932 megawatt (MW), yang mencakup sekitar 70 persen dari total kapasitas terpasang di Indonesia.
Fransetya Hutabarat, Direktur Keuangan PGEO, mengungkapkan bahwa penerapan ESG menjadi faktor penting dalam membangun fundamental bisnis yang berkelanjutan dan sehat. Dalam ajang Asia-Pacific Sustainable Business & Innovation Forum (ASBIF) 2026, PT Pertamina Geothermal Energy berhasil meraih penghargaan ESG Leadership Award 2026 sebagai Sector Champion untuk kategori Infrastructure, menandakan efektivitas penerapan ESG dalam rangkaian operasional perusahaan. Ini memperkuat posisi PGEO sebagai salah satu pemain utama dalam mendukung sistem kelistrikan nasional dan menggerakkan transisi menuju energi yang lebih bersih.
**Sentimen Saham:**
* **Sentimen Positif:** PGEO
* **Sentimen Negatif:** –
*Tanggal Source Berita: Jumat, 26 Juni 2026 18:18:57 WIB*