DSI Berpotensi Gerus Laba Emiten, Bisnis AALI hingga ITMG Bisa Lesu

Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.

Isi berita asli:
Suara.com – Kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI berpotensi memberikan tekanan terhadap sejumlah emiten yang memiliki ketergantungan tinggi pada pasar ekspor, khususnya sektor batu bara dan minyak sawit mentah (CPO).

Analis KB Valbury Sekuritas, Adolf RB Setiadi, menilai ketidakpastian terkait model bisnis DSI masih menjadi perhatian utama investor. Pasalnya, DSI memiliki kewenangan untuk mengatur ekspor komoditas strategis, termasuk menetapkan harga jual dan mengambil margin yang dianggap wajar.

“Perilaku pasar menunjukkan skeptisisme investor. Indeks batu bara dan CPO mengalami penurunan belasan persen setelah pengumuman DSI,” tulis Adolf RB Setiadi dalam risetnya seperti yang dikutip, Rabu (24/6/2026).

“Pasar langsung memperhitungkan risiko ekstrem, IHSG turun sekitar 8 persen secara mingguan dan sektor energi turun sekitar 13,7 persen pada minggu pengumuman DSI,” tambahnya.

Menurut KB Valbury, emiten-emiten berorientasi ekspor dengan porsi yang besar berpotensi menghadapi tekanan laba, jika DSI nantinya mengenakan margin terhadap pendapatan ekspor.

Berdasarkan simulasi KB Valbury, berikut sejumlah saham yang dinilai paling sensitif terhadap kebijakan DSI:

KB Valbury menjelaskan, AALI menjadi salah satu emiten yang paling rentan karena memiliki margin keuntungan yang relatif lebih tipis dibandingkan beberapa pesaingnya.

Sementara itu, ITMG menjadi emiten yang paling sensitif dari sisi laba per saham (EPS). Dalam simulasi tersebut, setiap margin DSI sebesar 1 persen berpotensi mengurangi EPS ITMG hingga Rp178,2 per saham.

“Kerangka sensitivitas kami menunjukkan bahwa setiap 1 persen margin yang diambil oleh DSI menekan NPM perusahaan yang berorientasi ekspor dalam sampel kami sebesar 0,27–0,61pp (1,4 – 5,7 persen),” jelas Adold.

Meski begitu, Adolf menilai kekhawatiran pasar saat ini lebih disebabkan oleh ketidakjelasan implementasi DSI dibandingkan kondisi fundamental komoditas global.

Menurut dia, terdapat dua kemungkinan arah kebijakan DSI. Pertama, DSI hanya berfungsi sebagai platform pengawasan dan pencegahan transfer pricing dengan biaya layanan yang terbatas. Kedua, DSI berkembang menjadi pihak yang mengambil sebagian margin perdagangan ekspor.

“Di bawah satu jalur, DSI tetap menjadi platform pengawasan dan anti-transfer pricing dengan biaya layanan yang terbatas. Di jalur lain, DSI berkembang menjadi penjaga gerbang komersial yang mengambil sebagian spread ekspor,” pungkas Adolf.

Dis… [content truncated]

*Tanggal Source Berita: Rabu, 24 Juni 2026 12:02:09 WIB*