IHSG Anjlok ke Level 6.002, Saham Emiten Emas Jadi Pemberat Utama

Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.

Isi berita asli:
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat hingga terlempar dari zona hijau pada paruh pertama perdagangan. Berdasarkan data yang dilansir dari Bloomberg Technoz, indeks saham kebanggaan tanah air ini melemah signifikan sebesar 1,62% dan parkir di level 6.002 pada penutupan Sesi I, Rabu (24/6/2026).

Sepanjang paruh pertama hari ini, pergerakan indeks terus menunjukkan tren penurunan yang konsisten. Indeks bahkan sempat merosot hingga menyentuh level terendah harian di posisi 5.993, dari batas atas pergerakan yang sempat berada di area 6.171.

Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan nilai perdagangan yang menembus Rp6,73 triliun. Total volume saham yang berpindah tangan mencapai 12,23 miliar lembar saham melalui frekuensi transaksi yang menyentuh 1,04 juta kali perdagangan.

Koreksi pasar modal ini dicerminkan oleh kejatuhan harga dari 426 saham emiten. Di sisi lain, hanya terdapat 201 saham yang berhasil menguat, sementara 178 saham sisanya tidak bergerak dari posisi semula alias stagnan.

Sektor barang baku menjadi salah satu pemicu utama ambrolnya indeks dengan koreksi terdalam mencapai 3,45%. Pelemahan ini diikuti secara ketat oleh sektor energi yang terpangkas sebesar 2,86% serta sektor infrastruktur yang merosot hingga 2,22%.

Kejatuhan indeks tidak lepas dari jebloknya performa jajaran saham produsen logam mulia. Sentimen negatif yang menerpa komoditas komoditas tambang membuat para investor melepas kepemilikan aset mereka di sektor ini.

Tidak hanya saham emas lapis kedua, koreksi masif juga melanda sejumlah saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45. Saham-saham ini menjadi motor penggerak ambrolnya IHSG siang ini.

Faktor makroekonomi global disinyalir menjadi pemicu utama di balik koreksi bursa domestik, terutama karena penurunan harga emas di pasar spot. Logam mulia global melorot sebesar 1,08% ke level US$4.074/troy ons, mendekati ambang psikologis US$4.000.

Pelaku pasar semakin meyakini bahwa bank sentral global akan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat dalam jangka waktu lebih lama. Ekspektasi tingginya suku bunga menjadi pukulan telak bagi pergerakan komoditas logam mulia.

Panin Sekuritas dalam catatannya memaparkan bahwa pelaku pasar saat ini tengah mengantisipasi risiko kelanjutan kenaikan suku bunga di Amerika Serikat. Sikap hawkish The Fed memicu proyeksi pasar bahwa pengetatan moneter berpotensi kembali terjadi pada September mendatang.

Lembaga keuangan intern… [content truncated]

*Tanggal Source Berita: Rabu, 24 Juni 2026 13:15:42 WIB*